- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Alasan PM India Modi Tak Hadiri KTT ASEAN: Kaitan dengan Trump?

NEW DELHI - Perdana Menteri India,
Narendra Modi, mengejutkan banyak pihak dengan ketidakhadirannya dalam
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang berlangsung di Kuala Lumpur,
Malaysia. Tradisi Modi yang jarang absen dalam pertemuan penting semacam ini
menjadi sorotan, terutama karena alasan yang dilaporkan terkait dengan hubungan
India dengan Amerika Serikat.
Beberapa pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya telah
memberikan informasi kepada Bloomberg mengenai alasan di balik keputusan ini.
Ketidakhadiran Modi tidak terlepas dari keengganannya untuk bertemu dengan
Presiden AS, Donald Trump.
Alasan utamanya adalah kekhawatiran Modi bahwa Trump mungkin
akan mengangkat isu sensitif terkait Pakistan selama pertemuan tersebut.
Hubungan antara India dan Pakistan sudah lama dikenal tegang, dan keterlibatan
AS pada Pakistan menambah kompleksitas situasi.
Baca Lainnya :
- BlackRock Suntik Lebih dari USD3 Miliar ke Proyek Data Center Raksasa Meta di Louisiana0
- Belantara Foundation Dorong Koeksistensi Manusia-Gajah di IUCN World Conservation Congress 0
- Israel Disebut Akan Tarik Mundur Pasukan Sepenuhnya Dari Gaza Dalam 24 Jam0
- Seven Clean Seas Perluas Operasi di Indonesia, Krisis Polusi Plastik Paling Terlihat di Dunia0
- Greenpeace Asia Tenggara Bawa Cerita #SaveRajaAmpat ke Forum PBB, Desak Tata Kelola Nikel0
Sejak beberapa waktu lalu, Trump telah mengklaim perannya
sebagai mediator dalam gencatan senjata antara India dan Pakistan, yang terjadi
pada Mei lalu. India, di sisi lain, secara konsisten membantah klaim tersebut.
Hal ini menjadi titik rawan bagi Modi, menjelang pemilihan negara bagian Bihar
yang akan berlangsung pekan depan. Ada kekhawatiran bahwa komentar Trump
tentang Pakistan bisa menjadi senjata bagi lawan politiknya, merugikan citra
dan peluang partai Modi, Bharatiya Janata Party (BJP).
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketidakhadiran Modi di KTT
ASEAN memiliki dampak yang lebih luas. Hubungan antara India dan AS sendiri
sudah mulai memburuk, terutama setelah Trump memberlakukan tarif masif sebesar
50 persen terhadap produk-produk India pada Agustus lalu. Tindakan ini
menguncinya dalam ketegangan yang berkepanjangan, terutama mengenai keputusan
India untuk mengimpor minyak dari Rusia.
Di tengah kondisi ini, masih belum ada respon resmi dari
pihak India terkait laporan ketidakhadiran Modi. Namun, perhatian media
internasional terus meningkat, terutama menyusul klaim Trump yang menyatakan
bahwa dia layak menerima Nobel Perdamaian untuk perannya dalam meredakan
ketegangan antara kedua negara bersenjata nuklir tersebut. Bahkan, Pakistan
pernah menominasikan Trump untuk penghargaan tersebut pada Juni lalu.
Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan, Trump juga menegaskan
bahwa dia mencegah potensi perang nuklir melalui taktik negosiasi perdagangan.
“Saya telah memberi tahu Perdana Menteri Modi dan Marsekal Lapangan Pakistan
bahwa kita tidak akan berdagang jika Anda berperang,” ujar Trump dalam sebuah
acara di Tokyo, menegaskan pentingnya diplomasi dalam konflik yang
berkepanjangan ini.
Dalam konteks pemilihan mendatang, Modi tidak hanya
mempertahankan citranya tetapi juga berusaha mendukung stabilitas politik di
dalam negeri. Ketidakpastian dari hasil diskusi internasional, terutama terkait
Pakistan, diperkirakan bisa disalahartikan oleh lawan politiknya dan digunakan
untuk menyerang citra BJP di mata publik.
Dengan latar belakang ini, Modi mungkin merasa bahwa
kehadiran di KTT ASEAN akan menambah lebih banyak kerumitan ketimbang manfaat.
Menghadapi tantangan domestik yang kian mendesak, keputusan harus diambil
dengan bijaksana. Perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana India akan
menavigasi hubungan internasionalnya di masa depan, terutama menjelang pemilu
penting yang bisa menentukan arah politiknya ke depan.
Meski ketidakhadiran ini mengecewakan, situasi ini
menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik global dan pengaruhnya terhadap
kebijakan domestik. KTT ASEAN yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin lain di Asia
Tenggara akan tetap menjadi platform penting bagi dialog dan kerja sama di
kawasan, meskipun India tidak berpartisipasi dalam pertemuan kali ini.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

