WALHI: Indonesia Kian Jauh dari Komitmen Transisi Energi dan Tidak Serius Tangani Krisis Iklim
KETIDAKHADIRAN Pemerintah Indonesia dalam Konferensi Internasional
Pertama untuk Transisi Melampaui Bahan Bakar Fosil yang berlangsung di Santa
Marta, Kolombia, pada 24–29 April 2026 menunjukkan ketidakseriusan negara dalam
merespons krisis iklim global. Di saat lebih dari 50 negara berkumpul untuk
menyusun peta jalan nyata keluar dari ketergantungan batu bara, minyak, dan
gas, Indonesia justru absen tanpa sikap maupun komitmen yang jelas.
Diskusi dalam forum
global ini difokuskan pada tiga pilar utama yakni mengakhiri ketergantungan
ekonomi pada pendapatan fosil, mentransformasi pasokan dan permintaan energi
melalui pengalihan investasi ke energi terbarukan, serta memperkuat kerja sama
internasional dan diplomasi iklim guna menghadapi ekspansi industri bahan bakar
fosil.
Konferensi yang
diselenggarakan bersama oleh Pemerintah Kolombia dan Belanda tersebut menjadi
ruang penting untuk mempercepat transisi energi yang adil dan teratur. Namun,
absennya Indonesia dalam forum strategis ini menegaskan jarak yang semakin
lebar antara klaim komitmen iklim pemerintah dan arah kebijakan energi yang
dijalankan di dalam negeri.
Baca Juga
“Ketika komunitas
internasional mulai bergerak lebih serius untuk menghentikan ekspansi bahan
bakar fosil, Pemerintah Indonesia justru memilih tidak hadir. Ini mencerminkan
tidak adanya kemauan politik untuk keluar dari ketergantungan batu bara,
minyak, dan gas yang selama ini menjadi sumber utama krisis ekologis, krisis
iklim dan konflik sosial di Indonesia,” kata Wahyu Eka Styawan, delegasi WALHI
dalam Konferensi Santa Marta.
Konferensi Santa Marta
menghasilkan sejumlah agenda penting, termasuk Laporan Aksi Nyata berisi
langkah konkret dekarbonisasi ekonomi, dorongan pembentukan Zona Bebas Fosil di
wilayah ekosistem sensitif dan masyarakat adat, serta penguatan dukungan terhadap
Fossil Fuel Non-Proliferation Treaty sebagai instrumen hukum internasional
baru.
Seluruh hasil tersebut
menegaskan bahwa transisi energi tidak dapat ditunda dan harus dilaksanakan
secara adil, tanpa membebankan biaya terbesar kepada negara-negara beremisi
rendah dan masyarakat rentan. Namun bagi WALHI, arah kebijakan energi Indonesia
justru bergerak berlawanan. Hal ini tampak dari tidak ambisiusnya SNDC
Indonesia.
Alih-alih mendorong
pemensiunan energi fosil, justru pemerintah Indonesia mempertahankan energi
fosil, dengan wujud masih membuka ruang luas bagi ekspansi tambang batu bara,
pengembangan minyak dan gas, serta menjadikan energi fosil sebagai tulang
punggung pembangunan.
Klaim transisi energi
yang disampaikan pemerintah di berbagai forum internasional juga tidak
tercermin dalam kebijakan nyata, dan lebih banyak diwarnai solusi palsu seperti
perdagangan karbon serta transisi semu yang tetap menopang industri fosil.
“Ketidakhadiran
Indonesia di konferensi ini bukan sekadar soal diplomasi, tetapi mencerminkan
paradigma pembangunan yang masih eksploitatif dan tidak berpihak pada
keselamatan rakyat serta keberlanjutan lingkungan. Selama pemerintah tetap
mempertahankan ketergantungan pada energi fosil, maka komitmen transisi energi
hanya akan menjadi slogan kosong,” tegas Wahyu.
WALHI menilai bahwa
sikap pasif dan tidak transparan ini berpotensi menempatkan Indonesia semakin
terisolasi dari arah kebijakan global menuju penghentian bahan bakar fosil.
Padahal, dampak krisis iklim seperti banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, dan
kerusakan wilayah hidup, semakin nyata dirasakan oleh masyarakat di berbagai
daerah, terutama komunitas adat dan kelompok rentan di wilayah ekstraksi
energi.
“Oleh karena itu, WALHI
mendesak Pemerintah Indonesia untuk berhenti menghindari tanggung jawab global
dan segera mengambil langkah korektif: menghentikan ekspansi bahan bakar fosil,
mencabut kebijakan yang melegalkan ketergantungan energi kotor, serta menyusun
peta jalan transisi energi yang adil, terukur, dan berpihak pada rakyat. Tanpa
perubahan mendasar, pemerintah secara aktif turut memperdalam krisis iklim dan
ketidakadilan ekologis,” tutup Wahyu.
