Upuleru dari Saparua ini Menancapkan Taring Sains Indonesia di Panggung Dunia
DI balik megahnya instalasi nuklir di Serpong, Tangerang, dan sistem jaminan kesehatan nasional yang kita nikmati hari ini, ada satu nama besar yang kerap terlupakan oleh generasi muda. Ia adalah Prof Dr Gerrit Augustinus Siwabessy.
Tokoh lintas zaman dari Saparua, Maluku ini bukan sekadar dokter biasa. Ia adalah sosok genius serba bisa yang sukses menancapkan taring sains Indonesia di panggung dunia.
Dilahirkan di Negeri Ullath, Maluku Tengah pada 19 Agustus 1914, pria yang akrab disapa Gerrit ini tumbuh dalam kesederhanaan sebagai anak yatim dari seorang petani cengkih.
Namun, keterbatasan tidak menghentikan langkahnya. Kecerdasannya membawanya meraih beasiswa di sekolah kedokteran bergengsi Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya.
Di sanalah ia mendapatkan julukan akrab "Upuleru" yang berarti Dewa atau Pelindung dalam bahasa tanah Maluku—sebuah nama yang kelak menjadi simbol perjuangannya.
Pasca kemerdekaan, bakat besar Upuleru di bidang radiologi kian diakui. Pada tahun 1949, atas rekomendasi Menteri Kesehatan dr J Leimena, Siwabessy mendapatkan beasiswa dari British Council untuk memperdalam ilmu radioterapi dan nuklir di Universitas London.
Di Inggris, kejeniusannya membuat geger kalangan akademisi barat. Baru tiga bulan mengikuti perkuliahan, Siwabessy langsung diangkat menjadi asisten tepercaya di Rumah Sakit Hammersmith, London.
Ia bahkan dibebaskan dari tugas kuliah rutin dan diberikan seorang sekretaris pribadi asal Inggris untuk membantu tugas-tugas administrasinya. Sebuah pencapaian yang sangat langka dan luar biasa bagi seorang ilmuwan Asia di era tersebut.
Selama di Inggris pula, ia mempelajari sistem kesejahteraan kesehatan masyarakat. Ide brilian inilah yang ia bawa pulang ke Tanah Air dan dikembangkan menjadi cikal bakal Asuransi Kesehatan (Askes) di Indonesia.
Pada tahun 1952, dunia dikejutkan ketika Amerika Serikat berhasil meledakkan bom hidrogen pertama mereka berkode Ivy Mike di Kepulauan Marshall, Samudera Pasifik. Khawatir terhadap dampak buruk radiasi nuklir global yang bisa mengancam keselamatan rakyat Indonesia, Presiden Soekarno tidak tinggal diam.
Bung Karno langsung menunjuk Siwabessy untuk memimpin Panitia Penyelidikan Radioaktivitas pada tahun 1954. Bersama elemen dari Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan pakar dari berbagai universitas top, Siwabessy bergerak cepat memetakan dan mengantisipasi dampak bahaya laten makro-radiasi tersebut di wilayah NKRI.
Langkah taktis ini menjadi batu loncatan besar bagi perkembangan sains nasional. Pada tahun 1962, Bung Karno meresmikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan menempatkan Siwabessy sebagai Direktur Jenderal pertama, yang kemudian mengantarkannya ke kursi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada tahun 1965.
Berkat jasanya memelopori reaktor nuklir, namanya kini abadi pada Reaktor Serba Guna GA Siwabessy di Serpong, Tangerang—reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara.
Keluwesan diplomasi internasional membuat Siwabessy dipercaya menjadi Menteri Kesehatan RI selama 12 tahun berturut-turut (1966–1978), menembus masa transisi dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.
Di bawah komandonya, wajah pelayanan kesehatan modern Indonesia dibentuk. Ia adalah otak di balik masifnya program Keluarga Berencana (KB), pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), hingga Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) di pelosok negeri.
Sebagai ahli kanker, ia merintis laboratorium radioterapi modern di RSCM serta RSPAD Gatot Subroto, dan ikut membidani lahirnya Yayasan Kanker Indonesia (YKI).
Usai melepaskan jabatan menteri, sang begawan sempat mengabdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang pada 11 November 1982 di Jakarta.
Jasad sang pelopor ini dimakamkan secara terhormat di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Untuk mengenang jasanya, Universitas Indonesia mengabadikan namanya sebagai Jalan Prof Dr GA Siwabessy di kompleks Kampus Depok pada tahun 2009.
Kisah hidup sang "Upuleru" dari Saparua ini menjadi bukti abadi bahwa Indonesia pernah memiliki putra daerah yang kecerdasannya diakui dunia demi kejayaan Ibu Pertiwi.
