- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
.jpg)
JAKARTA – Indonesia memiliki modal kuat
untuk menjadi penentu harga nikel dunia dan meraup manfaat ekonomi besar,
lantaran menguasai 42% cadangan nikel dunia dan menyumbang lebih dari 60%
pangsa pasar global. Namun, strategi yang dijalankan pemerintah saat ini justru
membuat Indonesia belum merasakan manfaat optimal pengelolaan cadangan dan
hilirisasi nikel.
Laporan terbaru Transisi Bersih “Strategi Mengontrol Nikel:
dari Price Taker ke Price Maker” mengungkapkan, derasnya arus
investasi dan ekspansi produksi nikel Indonesia yang tidak terkendali justru
menekan harga nikel dunia. Kondisi ini berdampak langsung pada merosotnya nilai
ekspor nasional. Selain itu, ekspansi masif juga memicu dampak lingkungan
serius, termasuk deforestasi puluhan ribu hektare di kawasan pusat produksi
nikel.
“Selama ini Indonesia justru membanjiri pasar dengan
produksi berlebihan, sehingga harga nikel jatuh dan nilai tambah nasional
hilang. Padahal, secara ekonomi, Indonesia punya daya untuk mengatur pasar,”
kata Abdurrahman Arum, Direktur Eksekutif Transisi Bersih.
Baca Lainnya :
- AHY: Infrastruktur RDMP Balikpapan yang Diresmikan Presiden Tonggak Kemandirian Energi Nasional0
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya0
- Tetap Solid di Tengah Tekanan Global, Pertamina Catat Laba Positif USD2.05 Miliar pada Q3 20250
- Bobibos dari Jerami: Inovasi atau Ilusi Energi? 0
- Perkuat Ketahanan Energi, Tambahan Produksi Gas Medco dari Sumur Suban Jauh Lampaui Target 0
Menurutnya, kebijakan pengelolaan nikel seharusnya diimbangi
oleh strategi implementasi yang tepat. Utamanya, diperlukan strategi yang jitu
agar cadangan yang besar dan produksi nikel yang masif dapat bermanfaat bagi
kemakmuran negara. “Masalah utamanya bukan pada hilirisasi itu sendiri,
melainkan pada strategi yang tidak tepat,” Abdurrahman menambahkan.
Strategi yang direkomendasikan Transisi Bersih yakni
‘kontrol dan manfaatkan’ (KM). Dengan strategi ini, Indonesia berpeluang
mengerek harga nikel dunia hingga dua kali lipat ke kisaran USD 26-36 ribu per
metrik ton dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Jika strategi tersebut mulai
diterapkan pada 2026, kenaikan harga ini diperkirakan tercapai pada periode
2028-2030, dan Indonesia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan mencapai Rp
369 triliun per tahun.
Untuk itu, Transisi Bersih merekomendasikan empat langkah
strategis utama. Pertama, memperketat kuota produksi dengan menetapkan batasan
produksi selama 3-5 tahun untuk menghilangkan surplus global dan menaikkan
harga. Kedua, menerapkan pajak ekspor progresif 10-35% yang disesuaikan dengan
pergerakan harga nikel dunia, guna meningkatkan penerimaan negara sekaligus
mendorong penguatan industri hilir di dalam negeri.
Langkah ketiga, menghapus insentif fiskal dengan mencabut
fasilitas tax holiday dan tax allowance bagi proyek smelter baru.
Menurut Transisi Bersih, dominasi pasar Indonesia sudah cukup kuat untuk
menarik investasi tanpa perlu subsidi tambahan. Keempat, meningkatkan standar environmental,
social, and governance (ESG) agar pengelolaan nikel tidak hanya memberikan
nilai tambah ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial.
“Strategi ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang
menjalankan amanat UUD 1945 untuk memanfaatkan sumber daya alam
sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan,” Abdurrahman
menegaskan.
Selain langkah jangka pendek dan menengah, Transisi Bersih
juga mendorong strategi jangka panjang dengan menginisiasi pembentukan
Organization of Nickel Exporting Countries (ONEC) bersama negara produsen lain
seperti Australia, Brasil, dan Filipina. Wadah ini diharapkan berfungsi
layaknya OPEC dalam mengkoordinasikan volume produksi global agar tercipta
harga yang adil dan berkelanjutan bagi negara pemilik sumber daya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Center of
Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengungkapkan, Indonesia
sejauh ini tidak bisa menjadi pengendali harga nikel lantaran China menjadi
pembeli tunggal yang dominan (monopsoni). Kondisi ini didorong oleh kebijakan
hilirisasi nikel yang saat ini berjalan tidak diimbangi dengan kebijakan
industrialisasi yang tepat.
Akibatnya, produk hilirisasi nikel berbentuk olahan primer
diekspor lantaran sektor industri tengah atau midstream tidak berkembang
dan tidak dapat mengolah produk tersebut. Oleh sebab itu, Indonesia perlu
mencari pembeli alternatif produk hilirisasi nikel, guna mengurangi kekuatan
China dalam menentukan harga.
“Kita butuh ganti pemain (pembeli) nikel, siapa? BUMN
harusnya jadi champion. Nikel kita bisa diserap oleh BUMN seperti
Krakatau Steel dan Inalum, termasuk PLN untuk membangun battery energy
storage (BESS). Mereka kan juga butuh mineral kritis untuk baterai sejalan
dengan kebijakan untuk mendorong transisi energi,” kata Bhima. (jaylani)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

