Semoga Allah Menurunkan Takdir Baik untuk NU Menjaga Benteng Keutuhan Bangsa dan Negara
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
NURCHOLIS QADAFI
Penulis
KETIKA ada tawaran untuk berangkat ke arena Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, hati ini riang gembira. "Alhamdulillah," jawab penulis dalam diam (hati).
Tetapi persoalannya, waktu dan jam pemberangkatannya bersamaan dengan Malam Puncak Ke-12 Roadshow (Safari) Sholawat sekaligus Peringatan Malam Kelahiran Nabi Agung, Manusia Mulia, Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Baiturrahim, "Rumah Allah" yang berada di sekitaran tempat tinggal.
Dua pilihan, antara memeriahkan acara yang dipenuhi kehadiran para ulama (muktamar) atau memeriahkan acara kelahiran manusia yang mewarisi para ulama (Maulid Nabi).
Akhirnya, penulis memilih memeriahkan acara yang mewarisi para ulama dengan segala risikonya tidak bisa melihat wajah sejuk para ulama lalu-lalang. Hehehe...
Cuuus, bus rombongan muktamar pun berangkat malam itu juga disertai ziarah kepada para ulama-ulama besar di Tanah Air. Semoga rombongan selamat dari berangkat hingga pulang penuh dengan segudang keberkahan. Aaamiiin YRA.
Muktamar kali ini mengandung pertaruhan eksistensi dan kredibilitas organisasi NU setelah memasuki usia lebih dari 1 Abad (100 Tahun), diuji kontroversi internal organisasi.
Atmosfer ketegangan dua kubu ala masayikh terlihat, meskipun masih mengedepankan adab dan etika. Tidak ada kata-kata kotor, apalagi sampai mengkafir-kafirkan. Nauzubillah.
Jika ketemu, tetap salaman meski hati belum menyatu. Bila satu meja, lebih banyak diam untuk menjaga perasaan. Memilih menghindar, daripada berargumentasi yang berujung pada perdebatan.
Aspirasi dikeluarkan melalui narasi atau sebuah komentar halus. Tidak frontal, karena masih menjaga rasa, agar tak ada yang kecewa. Dan seterusnya dan seterusnya. Itulah gaya perbedaan antar masayikh tetap adab diprioritaskan.
Dulu para ulama fiqih, ulama tasawuf, ulama tafsir juga banyak berbeda. Perbedaannya "dilampiaskan' dengan mengarang/menulis sebuah Syarah (Penjelasan) dalam sebuah kitab, menurut versi pengarangnya.
Maka, tidak heran jika hukum agama banyak versinya. Bukti mereka punya ilmu dan dalil untuk memilih metode lain dalam menjalankan tata cara beragama. Tetapi ujungnya sama, menuju ibadah kepada Allah SWT dengan baik dan benar. Luar biasa...
Ada banyak pernak-pernik dalam arena muktamar. Dari model pemilihan Rois Am yang diawali dengan penentuan ulama khos dengan sebutan: Ahlul Hali (Melerai) wal Aqdi (Mengikat) sebagai puncak keputusan penentuan Ketua Tanfidziyah, meskipun sudah ditentukan lewat pemilihan.
Personalisasi keselarasan Rois Am dan Ketua Tanfidziyah menjadi kekuatan organisasi. Termasuk isu campur tangan penguasa pun "mengudara" di arena muktamar. Harapannya, semoga Allah SWT menurunkan takdir yang baik untuk NU dalam menjaga benteng keutuhan Bangsa dan Negara.
"Kali ini, kurangi baca manaqib para wali. Langsung (biar cepat dikabulkan) tawasul ke Rasulullah SAW agar NU dijaga (kemuliaannya) oleh Allah," begitu kurang lebih ucapan ringan ulama khos kepada salah satu pengurus NU dalam salah satu momentum pertemuan.
Memasuki tahun-tahun awal abad kedua ini, bersamaan di tengah banyaknya ulama khos yang meninggal dunia (ila rofiqil a'la), "kendaraan besar" bernama NU memang mengalami banyak ujian/godaan. Baik internal maupun eksternal.
Maka, komitmen niat pengabdian yang kuat dan kemampuan dalam mengelola organisasi yang baik dan benar dibutuhkan untuk menciptakan keluarga NU yang Sakinah Mawadah wa Rohmah penuh berkah, Until (sampai) Jannah (surga).
Tak berani memvonis, siapa yang salah dan siapa yang benar, karena sebagai pengikut/penonton informasi masalah hanya berasal dari riwayat-riwayat (katanya - katanya). Bukan dari sumber langsung Sohibul Masalah (Pemilik Masalah). Hehehe...
Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, penulis berdoa dan berharap muktamar menjadi penyelesai masalah dengan melahirkan pemimpin yang terbaik bukan malah memperpanjang masalah dengan melahirkan pemimpin yang syarat dengan masalah.
Semoga Muktamar NU ke - 35 berlangsung sukses dan lancar sesuai dengan cita - cita muassis (pendiri) NU, Hadrotussyekh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syaefullah Halim, KH Bisri Syansuri, KH As'ad Syamsul Arifin, KH Ridwan Abdullah, KH Bisri Musthofa, dan ulama lainnya. Teriring doa alfatihah buat beliau-beliau semua, semoga bahagia melihat proses muktamar penuh barokah ini.
Selamat bermuktamar dengan hangat, senang, rukun, damai, bahagia, dan sejahtera. Menghasilkan keputusan-keputusan yang maslahah (baik), manfa'ah (manfaat) penuh dengan berkah.
Semoga Allah SWT meridhoi, memberkahi peserta, pecinta, dan pendukung acara muktamar dan seluruh Bangsa Indonesia. Aaamiiin YRA.
Mohon maaf lahir dan bathin
Semoga bermanfaat
Wallahu'alam
