- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Ribuan Masyarakat di Kecamatan Ini Hidup Dalam Wajan Raksasa

DI jantung Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terkuak sebuah realitas geologi yang mencengangkan. Ribuan penduduk di Kecamatan Ijen ternyata menempati sebuah area yang oleh masyarakat setempat digambarkan sebagai "wajan raksasa" peninggalan zaman purba.
Secara ilmiah, masyarakat di sana sejatinya hidup di dalam dan di sekitar Kaldera Gunung Ijen Purba, sebuah cekungan vulkanik raksasa yang terbentuk dari peristiwa geologi dahsyat ribuan tahun silam. Wilayah ini bukan sekadar dataran biasa. Ribuan jiwa tersebut menempati bagian "perut di tengah wajan," sebuah zona inti dari gunung berapi purba yang kini masih menyimpan aktivitas vulkanik di dalamnya melalui keberadaan Gunung Ijen modern.
Metafora "wajan raksasa" yang populer di kalangan masyarakat setempat, sejatinya merujuk pada Kaldera Gunung Ijen Purba, sebuah depresi geologi luas yang terbentuk dari runtuhnya puncak gunung berapi setelah letusan dahsyat. Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Kabupaten Bondowoso, Tantri Raras Ningtyas, menjelaskan bahwa kaldera ini tercipta akibat letusan tektonik yang luar biasa di zaman purba.
Perkiraan PHIG menyebutkan bahwa gunung Ijen Purba dahulunya menjulang hingga ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dengan diameter mencapai 18 kilometer, sebelum akhirnya meletus pada periode antara 300 ribu hingga 100 ribu tahun yang lalu.
Letusan dahsyat itu, menurut Tantri, tidak hanya menciptakan cekungan raksasa, tetapi juga melahirkan 22 "anak gunung" baru di sekitarnya. Yang menarik, Gunung Ijen yang kita kenal sekarang, dengan kawah api birunya yang ikonik, merupakan "si bungsu" yang terbentuk dari rangkaian peristiwa geologi pasca-letusan dahsyat gunung purba tersebut.
Saat material gunung api Ijen Purba dimuntahkan dengan volume yang masif, terjadi kekosongan rongga di bawahnya, menyebabkan struktur puncak gunung mengalami amblesan dan membentuk cekungan besar. Proses erosi dan longsor yang berkelanjutan kemudian turut memperluas area cekungan Kaldera ini dari waktu ke waktu.
Dari pengamatan citra topografi terkini, dapat dilihat bahwa area Kaldera Ijen Purba membentang seluas sekitar 220 kilometer persegi, dengan diameter yang bervariasi antara 15 hingga 20 kilometer.
Volume material muntahan letusan Ijen Purba diperkirakan mencapai 70 kilometer kubik, yang menyebar dengan kemiringan landai sejauh 27 hingga 30 kilometer ke arah barat laut, utara, dan timur laut, bahkan hingga mencapai wilayah Situbondo. Ini menunjukkan skala letusan yang luar biasa, membentuk lanskap regional secara drastis dan meninggalkan jejak geologi yang monumental.
Fenomena Kaldera Ijen Purba ini tidak sekadar menjadi bukti dahsyatnya kekuatan alam di masa lalu, melainkan juga sebuah laboratorium geologi hidup. Kawasan ini mengalami proses geologi yang sangat kompleks dan berkelanjutan, menjadikannya memiliki kekhasan geologi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti dan pengamat bumi.
Hidup di tengah "wajan raksasa" ini, masyarakat Kecamatan Ijen telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang unik, menyatu dengan warisan purba yang membentuk lanskap dan kehidupan mereka. Keunikan geologi ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat studi kebumian, destinasi geoturisme berkelanjutan, dan pengingat akan keagungan serta dinamika bumi yang tak pernah berhenti.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

