- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Presiden Prabowo Umumkan Indonesia Sah Swasembada Pangan
.jpg)
Keterangan Gambar : Presiden RI Prabowo Subianto (kiri) didampingi Mentan Andi Amran Sulaiman lakukan peninjauan di kampung Telaga Sari (Foto: Humas Kementan RI)
BOGOR - Presiden Republik Indonesia,
Prabowo Subianto, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kinerja sektor
pertanian nasional di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
yang dinilai berhasil menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat ketahanan
dan kedaulatan pangan Indonesia.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan
hasil kerja keras seluruh insan pertanian, khususnya para petani, penyuluh,
serta seluruh jajaran pemerintah yang konsisten menjalankan agenda pembangunan
pertanian.
Dalam pidato retreat di Hambalang Bogor, Presiden Prabowo
juga menyampaikan rasa bangga atas meningkatnya produktivitas pertanian
nasional, khususnya pada komoditas beras yang saat ini berada pada level
tinggi. Karena itu, menurutnya, sektor pertanian memiliki peran vital
dalam menjaga stabilitas ekonomi, ketersediaan pangan, serta martabat bangsa di
tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Baca Lainnya :
- Kepungan Bencana Ekologis dan Keharusan Reformasi Fiskal Sektor Ekstraktif0
- Korban Meninggal 1.016 Jiwa, Kekuatan TNI-Polri Percepat Penanganan Bencana Sumatera0
- Ekspansi Sawit Meluas, Produktivitas Turun, Kontribusi Pajak Rendah 0
- Tinjau Titik Terparah Aceh Tamiang, AHY Petakan Kerusakan Infrastruktur dan Salurkan Bantuan0
- Habitus Amran Sulaiman Merespon Cepat Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera0
“Dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan, saya melihat bahwa
sektor pertanian kita menunjukkan kinerja yang sangat baik. Ini adalah bukti
bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pangan,”
katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas
dari kebijakan yang berpihak pada petani, penguatan sarana dan prasarana
pertanian, serta optimalisasi lahan dan sistem irigasi. “Pertanian adalah
fondasi kekuatan bangsa. Jika pangan kita kuat, maka negara kita akan kuat,”
tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan terima kasih kepada para petani dan seluruh insan pertanian yang telah bekerja tanpa lelah demi memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Ia berharap, semangat dan dedikasi tersebut terus terjaga untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera.
Jalan Menuju Kebangkitan Pertanian Indonesia
Swasembada pangan menjadi poros utama kebijakan nasional di
bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sejak awal masa pemerintahannya,
Prabowo menegaskan bahwa kedaulatan pangan adalah prasyarat kemerdekaan sejati
sebuah bangsa.
“Tidak ada bangsa yang merdeka sesungguhnya kalau bangsa itu
tidak bisa produksi makannya sendiri. Karena itu, perjuangan saya selama saya
di politik, pengabdian saya selalu fokus, saya tidak akan tenang sebelum
Indonesia swasembada pangan,” tegas Presiden Prabowo Subianto, saat Kunker di
Bengkayang pada 5 Juni 2025.
Komitmen tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan
arah kebijakan strategis negara.Dorongan politik yang kuat dari Presiden
diterjemahkan secara progresif ke dalam target dan langkah konkret. Menteri
Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo bahkan terus
mempercepat target swasembada.
“Bapak Presiden Prabowo menargetkan swasembada dalam empat
tahun, kemudian menjadi tiga tahun, setelah itu dua tahun, dan terakhir target
(swasembada) dalam satu tahun,” kata Mentan Amran pada 17 Agustus 2025.
Hasilnya terlihat nyata tahun 2025. Badan Pusat Statistik
(BPS) menyebutkan berdasarkan KSA (kerangka sampel area) amatan November 2025,
Produksi beras nasional 2025 diprediksi mencapai 34,71 juta ton, melampaui
kebutuhan domestik tahunan. Surplus ini menegaskan kemandirian pasokan
sekaligus menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan nasional.
Pengadaan beras tahun 2025 pun tercatat sebagai yang
terbesar sepanjang sejarah Perum BULOG, melalui pembelian gabah langsung dari
petani any quality dengan harga Rp6.500 per kilogram. Cadangan beras
pemerintah sempat mencapai rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025 dan kini berada di
kisaran 3,24 juta ton, seiring penyaluran beras untuk bencana serta
pengendalian stok dan harga. Capaian ini mencerminkan stabilitas pasokan,
keberpihakan harga kepada petani, dan kehadiran negara dalam tata kelola
pangan. Dampaknya, petani kian semangat untuk berproduksi dengan jaminan harga
dan kepastian serapan oleh BULOG.
Dari sisi ekonomi, sektor pertanian menunjukkan kinerja
impresif. Pada triwulan I 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian
tumbuh sebesar 10,52 persen, tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Pertanian
kembali menegaskan perannya sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional,
didukung oleh peningkatan produksi, efisiensi usaha tani, dan kebijakan yang
pro-petani.
Indikator kesejahteraan petani juga mencatatkan rekor. Nilai
Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencapai 125,35 persen, tertinggi
sepanjang sejarah. Angka ini mencerminkan meningkatnya daya beli petani,
seiring membaiknya harga hasil pertanian dan terkendalinya biaya produksi serta
konsumsi rumah tangga. Swasembada pangan tidak lagi dimaknai semata sebagai
kecukupan stok, tetapi sebagai jalan menuju petani yang lebih sejahtera.
Dari sisi kebijakan, terbitnya Peraturan Presiden Nomor 6
Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025 menjadi
terobosan penting. Penyederhanaan regulasi dengan memangkas 145 aturan
memungkinkan petani menebus pupuk bersubsidi tepat sejak 1 Januari 2025 pukul
00.00 WIB—sebuah langkah historis yang mempercepat akses pupuk, meningkatkan
kepastian usaha tani, dan menjaga momentum musim tanam.
Keberpihakan ini diperkuat dengan penurunan harga eceran
tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai 22 Oktober 2025, yang
mendorong peningkatan penyaluran pupuk hingga 14 persen dibandingkan periode
yang sama sebelumnya.
Di tengah penguatan domestik, daya saing global sektor
pertanian juga meningkat. Sepanjang Januari–Oktober 2025, ekspor pertanian yang
mencakup segar dan olahan mencapai USD 38,33 miliar, serta membawa neraca
perdagangan pertanian surplus USD 18,79 miliar.
Sektor ini juga tetap menjadi penyerap tenaga kerja utama.
Sektor pertanian yang meliputi empat subsektor tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan peternakan, berkontribusi sebesar 26,07 persen dalam penyerapan
tenaga kerja di Agustus 2025. Dalam kurun Agustus 2024 - Agustus 2025, lapangan
usaha pertanian mengalami peningkatan tenaga kerja 0,38 juta orang. Pada
Agustus 2025, tercatat sebanyak 38,2 juta tenaga kerja di sektor
pertanian.
Seluruh capaian sektor pertanian saat ini bukan hanya kerja
satu kelompok saja. Mentan Amran menegaskan bahwa swasembada pangan adalah
kerja kolektif lintas sektor.
“(Swasembada) ini bukan kerja satu orang. Ini kerja kita
semua. Ada Kementerian Pertanian, Bulog, Badan Pangan Nasional, Pupuk
Indonesia, Komisi Informasi, TNI, Polri, Kejaksaan, BUMN, serta penyuluh
lapangan, juga para petugas lapangan, dan utamanya ini hasil kerja para petani
kita,” ujar Mentan Amran.
Dengan kepemimpinan politik yang tegas, kebijakan yang
progresif, serta kerja bersama seluruh elemen bangsa, swasembada pangan hari
ini bukan sekadar capaian statistik. Ia adalah penanda Era Kebangkitan
Pertanian Indonesia-era yang ditandai dengan kedaulatan pangan, kesejahteraan
petani, dan kekuatan ekonomi nasional bertemu dalam satu arah perjuangan. (*)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

