Logo Porosbumi
24 Mei 2026,
24 May 2026
LIVE TV

PASIR YANG MEMBAKAR

PorosBumi 23 Mei 2026, 14:53:41 WIB
PASIR YANG MEMBAKAR

PASIR YANG MEMBAKAR


Di sini pernah ada tanah keras
yang tahu cara menyimpan jejak.

Kini ada pasir.
Pasir yang tidak menerima jejak.
Pasir yang melupakan segalanya sebelum matahari terbenam.
Pasir yang indah di foto
mati di dalam jiwa.

Tanyakan kepada pasir: siapa yang pernah lewat di sini?
Ia akan diam.
Karena pasir tidak punya ingatan.
Pasir adalah amnesia yang sengaja ditaburkan.

Aku pernah menggali pagar-pagar tua.
Pagar VOC yang mengendalikan kota.
Pagar keraton yang memisahkan yang suci dari yang biasa.
Pagar kolonial yang berkata:
di dalam sini, bukan urusanmu.

Kini ada pagar baru
Mengkilap, punya papan nama resmi,
Disebut revitalisasi
Oleh mereka yang tidak pernah belajar
Bahwa revitalisasi tanpa jiwa
Hanyalah pembalseman.

Mumi juga tampak terawat.
Mumi juga tidak bergerak.

Hamengkubuwana I membangun sumbu:
Merapi — Tugu — Keraton — Laut Selatan.

Utara adalah kehidupan.
Selatan adalah rahasia.

Lalu mengapa pasir Merapi
Pasir dari tubuh gunung tua
Kini menutup tanah di utara?

Apakah raja sedang berkata:
Kehidupan publik berakhir di sini?

Atau hanya arsitek yang tidak membaca prasasti?
Aku tidak tahu mana yang lebih berbahaya.

Di sinilah Grebeg pernah meledak betulan:
Ribuan tangan berebut gunungan,
Ribuan badan saling dorong dalam sukacita
yang tidak membutuhkan izin,
Tidak membutuhkan tiket,
Tidak membutuhkan jarak dengan kekuasaan.

Di sinilah orang biasa pernah menatap Siti Hinggil
dan bergumam:
Raja itu ada. kami juga ada.
Kini siapa yang menatap siapa?

Aku sudah di sini sebelum kalian semua lahir kata beringin.

Aku melihat Diponegoro lewat.
Aku melihat proklamasi dirayakan.
Aku melihat mahasiswa bergerak ke selatan.

Kini aku dikurung lebih rapi.
Kalian menyebut ini pelestarian.

Aku menyebutnya sangkar emas.

Tiga ratus tahun dari sekarang,
ketika arkeolog masa depan menggali lapisan ini

Mereka akan menemukan pasir steril tanpa artefak.
Tidak ada koin jatuh.
Tidak ada tulang ikan sate yang tercecer.
Tidak ada bekas tapak kaki anak-anak.

Mereka akan berkata:
Di sini pernah ada ruang.
Tapi ruang ini tidak pernah dihidupi.

Pasir tidak punya nama.
Pagar tidak punya wajah.
Keistimewaan tidak punya telinga.

Tapi kota punya ingatan
Tersimpan bukan di museum,
Bukan di brosur pariwisata
Tapi di telapak kaki manusia
yang pernah berdiri di sini
dan merasa: aku bagian dari ini semua.

Sekarang telapak kaki itu hanya boleh lewat di pinggir.

Di tengahnya: pasir.
Pasir yang membakar.
Pasir yang memisahkan raja dari yang diperintah

Persis seperti yang dilakukan Majapahit
sebelum Islam datang
dan mengatakan:
buka pintunya.

Yogyakarta,  16052026

M. Basyir Zubair (Embas)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```