Menjaga Badak, Merawat Harga Diri Bangsa
AHMAD RIZAL
Asisten Manajer Konservasi Hutan- Program TFCA
Sumatra
Baca Juga
SETIAP tanggal 22 September, komunitas
global menghentikan sejenak hiruk-pikuk modernitas untuk menoleh pada salah
satu mamalia darat terbesar yang tersisa di planet ini melalui peringatan Hari
Badak Sedunia (World Rhino Day).
Di panggung internasional, hari ini kerap dirayakan dengan
infografis estetis di media sosial, penggalangan dana dari lembaga donor
internasional, serta pidato-pidato normatif dari para pejabat lingkungan.
Namun, bagi Indonesia, tanggal 22 September tidak boleh dan tidak pernah bisa
hanya menjadi sebaris teks dalam kalender seremoni tahunan.
22 September bukan sekadar tanggal seremonial tahunan. Hari
Badak Sedunia semestinya menjadi momen untuk sejenak berhenti, melihat ke dalam
diri, dan merenungkan kembali: Seberapa jauh kita telah melangkah dalam menjaga
amanah alam yang dititipkan di bumi Nusantara?
Indonesia berada di episentrum konservasi global bukan
karena ukuran wilayahnya, melainkan karena posisi geografis dan keunikan
isinya. Ketika kita berbicara tentang badak, kita sedang berbicara tentang
garis depan garda biodiversitas dunia. Indonesia adalah benteng terakhir, garis
pembatas antara eksistensi dan kepunahan mutlak bagi dua dari lima spesies
badak yang tersisa di muka bumi.
Oleh karena itu, setiap kali tanggal 22 September tiba,
Indonesia tidak sedang memperingati hari satwa liar yang generic, melainkan
sebuah pengingat bahwa bangsa ini membawa amanah sejarah, ekologis, dan moral
dunia yang harus terus kita jaga bersama.
Kondisi Terkini: Berada di Episentrum Krisis
Kepunahan
Untuk memahami urgensi dari peringatan ini, kita harus
berani menatap angka-angka dan realitas yang getir. Indonesia adalah rumah
tunggal bagi Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis (Fischer, 1814)) dan Badak
Jawa (Rhinoceros sondaicus (Demarest, 1822)).
Kedua spesies ini tidak sekadar berstatus terancam,
melainkan berada di titik nadir yang dikategorikan oleh IUCN (International
Union for Conservation of Nature) sebagai Kritis (Critically Endangered)-satu
langkah logis sebelum status "Punah di Alam Liar" (Extinct in the
Wild) dan akhirnya "Punah" (Extinct). Melihat kondisi yang begitu
kritis, narasi yang dibangun dalam konservasi badak harus dirombak secara
total.
Melindungi badak tidak boleh lagi dipandang sebagai sekadar
aksi filantropi lingkungan, perjuangan para individu atau Lembaga swadaya
masyarakat (LSM) konservasi badak, dan tanggung jawab penuh kementerian
terkait, melainkan secara serius semua individu di negeri ini harus
bergandengan tangan untuk memastikan dan menyelamatkan warisan dan tanggung
jawab spesies ini tetap bersama kita, selama dunia ini masih ada.
Di Sumatra, status Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)
saat ini berada di titik paling nadir, menjadikannya salah satu mamalia besar
yang paling terancam punah di bumi. Bayang-bayang kepunahan terpampang nyata
melalui data empiris: dalam tiga dekade terakhir, populasi satwa endemik ini
telah menurun hingga 80 persen.
Krisis penurunan ini terjadi begitu cepat, dengan laju
kehilangan 50% populasi setiap sepuluh tahun (Foose and van Strien, 1997).
Kini, total populasi yang tersisa diperkirakan kurang dari 100 individu yang
hidup dalam kantong-kantong populasi kecil di Sumatra dan Kalimantan.
Lanskap persebaran mereka saat ini sangat kritis dan
terfragmentasi dalam subpopulasi kecil yang terisolasi, populasi di Taman
Nasional Way Kambas saat ini sulit untuk dikemukakan, karena dalam 5-7 tahun
terakhir tidak ada laporan yang dipublikasi mengenai statusnya.
Di Taman Nasional Gunung Leuser, tercatat melalui data dari
kamera jebak sekitar 30–40 individu yang tersebar di beberapa sub-populasi.
Namun tragisnya, empat sub-populasi di
wilayah utara ini dikategorikan tidak mampu bertahan hidup dalam jangka panjang
(tidak viabel) karena hanya menyisakan maksimum 2 hingga 5 ekor badak saja.
Di TN Bukit Barisan Selatan, kondisi tidak jauh berbeda
dengan TNWK, sedang di Kalimantan Timur, diperkirakan populasi hanya ada sisa
(mungkin kurang dari 3 ekor) yang hidup dalam ancaman jerat liar (IUCN
Redlist).
Sementara untuk populasi Badak Jawa sendiri diperkirakan
87-100 individu dan hidup terbatas di Taman Nasional Ujung Kulon. Keterbatasan
habitat atau bisa dibilang habitat tunggal tersebut tentunya bisa menghadapi
resiko kepunahan massal, terutama oleh resiko bencana alam, selain itu
ketergantungan habitat tersebut juga bisa menyebabkan rawan akan wabah penyakit
hingga rendahnya variasi genetik.
Konservasi Badak: Peluang dan Tantangan
Di tengah situasi darurat ini, memperingati Hari Badak bukan
lagi sekadar seremonial, melainkan momentum pertaruhan terakhir manusia.
Mengutip dari Siaran Pers Nomor: SP.209/HUMAS/PP/HMS.3/9/2025 pada peringatan
Hari Badak Sedunia tahun 2025, Pemerintah melalui KEMENHUT terus berupaya
melakukan aksi penyelamatan badak di Indonesia melalui beberapa agenda
konservasi diantaranya, pengembangbiakan Badak Sumatra secara semi in-situ di
Suaka Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas; pengembangan Assisted
Reproductive Technology (ART) dan Biobank bersama IPB University, YABI, dan
mitra internasional; dan penguatan Rhino Protection Unit (RPU) untuk patroli,
pemantauan, penegakan hukum, serta edukasi masyarakat;
Lalu, Operasi Merah Putih translokasi Badak Jawa di Taman
Nasional Ujung Kulon; penyelamatan Badak Sumatra “Pari” di Suaka Kelian,
Kalimantan Timur, serta rencana operasionalisasi Suaka Badak Sumatra di Aceh
Timur; pemanfaatan teknologi konservasi seperti kamera jebak, drone, analisis
DNA lingkungan (environmental DNA), dan anjing K-9; serta sosialisasi dan
edukasi publik terkait pentingnya menjaga spesies badak.
Sampai saat ini agenda tersebut terus diperkuat dan
dipercepat. Jika tidak maka kita sedang bersiap menjadi saksi mata hilangnya
salah satu mamalia tertua di planet ini untuk selamanya. Beberapa langkah pasti
agenda konservasi yang dijalankan adalah Kementerian Kehutanan RI dan IPB
University resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan Assisted
Reproductive Technology (ART) dan Biobank guna mencegah kepunahan satwa liar
yang terancam punah di Indonesia.
Melalui penandatanganan kesepakatan dan soft launching
pembangunan Gedung Pusat ART dan Biobank pada 2 September 2025. Kolaborasi
untuk ART difokuskan pada pemanfaatan teknologi reproduksi modern seperti
inseminasi buatan, fertilisasi in vitro (IVF), transfer embrio, hingga
kriopreservasi gamet dan embrio.
Sementara itu, biobanking berfungsi sebagai
penyimpanan materi genetik (sperma, sel telur, embrio, bahkan jaringan) untuk
keberlanjutan konservasi jangka panjang. Langkah inovatif yang sejalan dengan
Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) ini diharapkan mampu memperkuat
konservasi ex-situ, menjaga keragaman genetik, dan memulihkan populasi satwa
kritis.
Selain memperkokoh kedaulatan riset nasional agar Indonesia
menjadi hub penelitian keanekaragaman hayati dunia, teknologi ini telah
diimplementasikan secara nyata dalam penyelamatan Badak Sumatera di Way Kambas
(Lampung) dan Kelian (Kalimantan Timur).
Program ambisius yang didukung penuh oleh berbagai mitra
domestik dan internasional khususnya IPB University serta mitra lainnya
diantaranya Kedutaan Besar Amerika Serikat, Yayasan KEHATI, TFCA Sumatera,
serta TFCA Kalimantan ini menandai babak baru komitmen Indonesia dalam
memanfaatkan sains mutakhir demi menjaga amanah alam dan kelestarian ekosistem
masa depan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan pada 29
Agustus 2025 juga sudah resmi meluncurkan Operasi Merah Putih – Translokasi
Badak Jawa sebagai langkah nyata untuk menyelamatkan satwa endemik kritis dari
ancaman kepunahan di Taman Nasional Ujung Kulon.
Upaya kolaboratif yang melibatkan Direktorat Jenderal KSDAE,
TNI, dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) ini mencakup persiapan teknis yang
matang, mulai dari pembangunan fasilitas Javan Rhino Study and Conservation
Area (JRSCA), pemilihan individu badak, survei jalur pergerakan, hingga
penyusunan pedoman ethical assessment bersama para pakar nasional dan
internasional.
Menghadapi kompleksitas krisis ekologis ini, kita tidak
boleh terjebak dalam sikap pesimisme fatalistik atau sekadar meratapi kondisi.
Hari Badak Sedunia harus dijadikan batu loncatan untuk meluncurkan solusi
taktis-strategis yang terukur dan berdampak jangka panjang.
Solusi ini bertumpu pada dua pilar utama: modernisasi
manajemen konservasi melalui sinergi multisektoral dan negara ini harus terus
mendorong investasi peradaban melalui edukasi dan keterlibatan generasi muda.
Konservasi badak yang sukses tidak akan pernah bisa dicapai
jika urusan ini hanya dianggap sebagai pekerjaan rumah Kementerian Kehutanan
atau Balai Taman Nasional setempat. Melindungi garis depan masa depan badak
membutuhkan mobilisasi sumber daya nasional secara total melalui pendekatan
multisektoral yang terintegrasi, salah satunya adalah dengan pelibatan dan
dukungan langsung TNI AL dalam operasi merah putih untuk translokasi Badak
Jawa.
Pemerintah dan semua elemen mitra konservasi badak terus
berupaya untuk merubah paradigma pengawasan hutan dan konservasi badak dari
cara-cara konvensional menuju ekosistem digital berbasis teknologi terbarukan
dan bioteknologi. Pengembangan ART dan Biobank, analisis DNA lingkungan (eDNA),
penggunaan kamera jebak, dan pengawasan udara nirawak pintar (drone) serta
penguatan ditingkat tapak terus diperkuat.
Namun ada satu hal yang benar-benar bisa menjadi sorotan
utama dan bisa jadi akan menjadi salah satu solusi menjaga peradaban dan
eksistensi badak ke depan. Kita harus berinvestasi dan mendorong terciptanya
peradaban dan kontruksi gaya hidup ekologis melalui edukasi dan keterlibatan
pada generasi muda bangsa.
Jika sinergi multisektoral adalah solusi untuk jangka pendek
dan menengah, maka edukasi dan keterlibatan generasi muda adalah salah satu
solusi permanen untuk masa depan. Konservasi badak tidak akan memiliki
keberlanjutan jika ia berhenti di generasi kita. Kita harus menanamkan
kepedulian terhadap badak ke dalam struktur kesadaran kolektif generasi
penerus—Gen Z, Gen Alpha, dan generasi setelahnya.
Tentunya langkah ini bukan sekedar omong kosong belaka, Terlebih,
akhir-akhir ini kita sudah belajar bagaimana antusiasme dan keinginaan
masyarakat dan generasi muda untuk bergerak bersama menjaga hutan dan alam kita
pada fenomena pergerakan yang begitu masif dalam mendukung gerakan kampanye
urunan dana “Patungan untuk Hutan”.
Bukan tidak mungkin semangat itu juga akan muncul untuk
menjaga Badak yang bangsa ini miliki. Lalu, bagaimana kita melakukannya di
momen hari badak sedunia ini?
Dekonstruksi Narasi Konservasi: Dari Menakutkan
Menjadi Kebanggaan Populer
Salah satu kegagalan terbesar gerakan lingkungan masa lalu
adalah cara penyampaian pesan yang cenderung kaku, penuh istilah ilmiah
jargonistik, dan dipenuhi narasi bencana yang membuat frustrasi. Generasi muda
hari ini merespons dunia melalui visual, narasi cerita yang personal
(storytelling), dan relevansi budaya terkini.
Gamifikasi dan Teknologi Imersif: Memasukkan isu konservasi
badak ke dalam industri kreatif digital. Mengembangkan permainan video (video
games), aplikasi simulasi pengorbanan polhut, atau pemanfaatan Virtual Reality
(VR) di sekolah-sekolah yang memungkinkan anak-anak "masuk" dan
berinteraksi secara digital dengan badak. Pengalaman imersif ini membangun
empati emosional yang kuat sejak usia dini.
Kampanye Digital Kreatif di Media Sosial: Memanfaatkan
platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube untuk memproduksi konten sains
populer yang menghibur. Narasi tentang keunikan badak—seperti suara
"nyanyian" Badak Sumatra yang khas, kebiasaan berkubangnya yang lucu,
atau dedikasi para ranger hutan—harus dikemas oleh para content creator muda
menjadi konten yang viral dan keren untuk dibicarakan di tongkrongan digital.
Integrasi Kurikulum Pendidikan Berbasis Literasi
Biodiversitas Lokal
Pendidikan lingkungan hidup tidak boleh hanya menjadi muatan
lokal yang diajarkan sekadarnya. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan
dasar dan Menengah harus mengintegrasikan Literasi Biodiversitas Endemik secara
mendalam ke dalam kurikulum nasional (seperti pada mata pelajaran Biologi,
Geografi, dan Pendidikan Karakter).
Anak-anak Indonesia harus tumbuh dengan pemahaman yang sama
baiknya—atau bahkan lebih baik—tentang Badak Sumatra dan Badak Jawa
dibandingkan pengetahuan mereka tentang Singa Afrika atau Panda China.
Sekolah-sekolah harus didorong untuk membangun koneksi
langsung dengan pusat-pusat konservasi, mengadakan program adopsi badak
simbolis antar-sekolah, dan memfasilitasi diskusi kritis mengenai kebijakan
lingkungan.
Mengubah Konservasi Menjadi Gaya Hidup
(Eco-Lifestyle)
Generasi muda harus dituntun untuk melihat bahwa mendukung
kelestarian badak adalah bagian integral dari identitas sosial mereka sebagai
warga dunia yang modern dan bertanggung jawab. Memilih untuk tidak mengonsumsi
produk yang merusak hutan (seperti kelapa sawit ilegal atau produk kayu tanpa
sertifikasi FSC).
Kemudian, menggunakan barang-barang ramah lingkungan, hingga
melakukan donasi mikro berbasis komunitas (crowdfunding) untuk membantu
konservasi badak harus dikonstruksikan sebagai tindakan yang keren,
bermartabat, dan penuh gengsi sosial.
Ketika menjaga alam telah bertransformasi menjadi sebuah
standar moral dan gaya hidup generasi baru, maka masa depan badak akan berada
di tangan yang aman. Namun, kita tetap juga harus menyadari bahwa
langkah-langkah diatas tetap harus dibersamai dengan komitmen politik
Pemerintah Indonesia dalam menyelamatkan badak dari ancaman kepunahan.
Dengan menyatukan instrumen pertahanan negara, ilmuwan
domestik, dan mitra global, Indonesia harus terus menegaskan tanggung jawab
moral dan politiknya sebagai negara mega-biodiversity yang berdaulat dalam
mengamankan amanah alam tertinggi Nusantara untuk generasi masa depan. Pada
akhirnya, sejarah adalah hakim yang sangat dingin dan tidak pernah berkompromi.
Dekade-dekade mendatang akan menjadi saksi dan pencatat yang jujur atas apa
yang kita lakukan hari ini.
Sejarah tidak akan mengingat berapa banyak jalan tol yang
kita bangun, seberapa tinggi gedung pencakar langit yang kita dirikan, atau
seberapa besar angka pertumbuhan domestik bruto yang kita capai, jika pada saat
yang sama kita membiarkan dua spesies paling menakjubkan di bumi lenyap
selamanya dari genggaman kita.
Apakah kita akan membiarkan anak-cucu kita kelak hanya
mengenal Badak Jawa dan Badak Sumatra melalui replika museum yang berdebu,
foto-foto usang di buku sejarah digital, atau dongeng pengantar tidur tentang
kepunahan tragis yang disebabkan oleh kelalaian leluhur mereka?
Ataukah kita akan berdiri tegak sebagai generasi penyelamat
yang tangguh, generasi yang dengan bangganya menyerahkan tongkat estafet sebuah
bangsa yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga mulia karena berhasil
mempertahankan keutuhan alamnya?
Pilihan itu, dengan segala konsekuensi sejarahnya, berada
tepat di ujung jari dan keputusan kita hari ini. Menjaga badak adalah menjaga
pusaka peradaban. Menyelamatkan badak adalah merawat, menegaskan, dan
meninggikan harga diri bangsa kita di hadapan dunia dan di hadapan masa depan.
