- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Ini Penjelasan Peneliti BRIN Soal Fenomena Gerhana Bulan Merah Darah
.jpg)
JAKARTA – Fenomena astronomi
langka telah terjadi dan menyapa langit Indonesia pada malam tanggal 7–8
September 2025, yakni Gerhana Bulan Total (GBT). Media sering menyebutnya Blood
Moon (Bulan merah darah). Kejadian ini terjadi ketika Bumi tepat berada di
antara Matahari dan Bulan saat purnama.
Bayangan Bumi sepenuhnya menutupi permukaan purnama dan
memunculkan rona merah yang dramatis. Menurut data ilmiah, fenomena ini disebut
GBT yang berlangsung sekitar 82 menit, salah satu yang terlama dalam dekade
ini.
Prof Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang
Astronomi dan Astrofisika, menjelaskan bahwa fenomena Bulan Merah Darah
disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi, yang menyaring
cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke bulan.
Baca Lainnya :
- RS Kapal PIS dan doctorSHARE Layani 4000 Pasien di Pelosok Raja Ampat 0
- Ikhtiar OJK Dukung SDGs: Membumikan Meritokrasi Tata Kelola Keuangan Sehat Berkelanjutan 0
- Api Dalam Sekam dan Batu Uji Kepemimpinan Prabowo Subianto 0
- Guru: Novel dan Kenangan0
- Fakta Unik Kondusifitas Demo Mahasiswa dan Driver Online di Kota Palembang0
"Alih-alih menjadi gelap saat GBT, purnama berubah
warna jadi memerah. Hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain
telah dihamburkan oleh atmosfer bumi," kata Thomas.
Gerhana ini dapat disaksikan secara langsung dari seluruh
wilayah Indonesia, menjadikannya kesempatan sempurna untuk mengamati langit
malam tanpa alat khusus. Thomas juga menegaskan kemudahan pengamatan fenomena
ini di Indonesia.
“Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan
mata telanjang kita sudah bisa menikmatinya. Tentu saja bila ada teleskop dan
kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya," ujarnya.
Fenomena GBT ini terbagi menjadi beberapa fase: fase
penumbral (bayangan lembut yang tidak tampak jelas), gerhana sebagian, dan
gerhana total, lalu kembali ke fase gerhana sebagian dan penumbral. Setiap
tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat
langit.
Selain keindahan visual, GBT juga memiliki dimensi edukatif.
Thomas mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai bahan belajar
astronomi. Keteraturan orbit bulan mengitari bumi dan bumi bersama bulan
mengitari matahari yang memungkinkan prakiraan waktu kejadian gerhana.
“Ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum untuk mengenal
mekanika benda langit, orbit Bulan, dan konfigurasi Bumi-Matahari-Bulan,”
tuturnya. Selain itu, kelengkungan bayangan bumi di bulan membuktikan bumi yang
bulat. Bukan datar.
Sejumlah daerah di Asia, Australia, Afrika, dan Eropa
menyaksikan GBT ini. Hanya Indonesia dan negara-negara di Asia tenggara dan
timur yang dapat menyasikan secara penuh rangkaian GBT. Lainnya hanya
menyaksikan GBT saat proses awal atau proses akhir. Sementara benua
Amerika tidak dapat mengamatinya karena di benua Amerika saat itu siang hari.
Dengan keindahan visual sekaligus kekayaan ilmiah yang
dimilikinya, GBT 2025 adalah ajakan bagi masyarakat untuk melihat langit bukan
sekadar untuk dilihat, tapi juga untuk dipahami. (pur)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

