- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Hilirisasi Timah Jadi Penentu Industrialisasi, MIND ID Diminta Percepat Ekosistem Hilir

Keterangan Gambar : Hilirisasi PT Timah membuktikan Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi (foto: wahyono)
JAKARTA - Hilirisasi
timah di Indonesia saat ini dinilai sudah memasuki fase penting bagi
industrialisasi nasional. Dalam konteks ini, PT Timah Tbk, sebagai bagian dari
MIND ID, telah melakukan langkah hilirisasi nyata poprzez produksi tin solder,
tin chemical, hingga tin powder. Namun dalam perkembangan industri hilir
nasional saat ini masih berjalan lamban dan membutuhkan kebijakan besar untuk
dipercepat.
Pengamat energi Ali Ahmudi
menilai, hilirisasi yang dilakukan PT Timah menunjukkan bahwa Indonesia
sebenarnya memiliki kemampuan teknis dan kapasitas industri untuk menghasilkan
produk bernilai tambah tinggi.
“PT Timah sudah memulai
hilirisasi beyond ingot. Produksi tin solder dan tin chemical menandai bahwa
kita sudah masuk fase industrialisasi awal. Tetapi untuk menjadi pemimpin
global, struktur hulu dan hilirnya masih harus dibenahi secara menyeluruh,”
ujar Ali dalam keterangan resminya, Minggu (23/11).
Baca Lainnya :
- Indef Takar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2026 Hanya 5 Persen0
- Perry Warjiyo Dkk Tahan BI Rate di 4,75 Persen 0
- OJK Cap Dormant Bila Rekening Tak Aktif Lebih 1800 Hari0
- Genjot Nilai Tambah dan Manfaat, MIND ID Perkuat Tata Kelola Produksi dan Penjualan0
- BI Laporkan Utang Indonesia Menyusut 0,6% Pada Triwulan III 20250
Data Asosiasi Eksportir Timah
Indonesia (AETI) menunjukkan bahwa PT Timah Industri saat ini memproduksi tin
solder sebesar 2.000 ton per tahun, tin chemical 21.000 ton per tahun, dan tin
powder 100 ton per tahun. Di luar itu, hanya sedikit perusahaan yang tengah
membangun fasilitas hilirisasi dengan kapasitas terbatas, mulai dari pabrik tin
solder 4.000 ton per tahun hingga rencana produksi 40.000 ton tin solder oleh
PT Tri Charislink Indonesia, serta pengembangan tin chemical 16.000 ton oleh PT
Batam Timah Sinergi. Ada pula industri hilir seperti PT Solderindo dengan
kapasitas 48.000 ton dan PT Latinusa dengan kapasitas tin plate 160.000 ton per
tahun.
Ali menilai kenyataan bahwa
hanya segelintir perusahaan yang berhasil membangun fasilitas hilir membuktikan
bahwa ekosistem hilirisasi timah Indonesia belum terbentuk secara optimal.
Hambatan struktural masih kuat, mulai dari keterbatasan permintaan domestik
hingga beban regulasi yang justru melemahkan daya saing industri dalam negeri.
“Kita ini punya cadangan besar,
tetapi industri turunannya belum tumbuh. Ekosistem hilirnya masih tipis. Banyak
pelaku yang sebenarnya mampu, tetapi terbentur fiskal, regulasi, dan minim
insentif,” kata Ali.
Ali mencatat sedikitnya lima
penyebab hilirisasi timah nasional berjalan lambat. Pertama, belum terbentuknya
ekosistem industri hilir timah, sehingga aplikasi logam timah dalam berbagai
sektor manufaktur masih sangat kecil. Kedua, pengenaan PPN terhadap bahan baku
logam timah membuat biaya produksi tin solder dalam negeri kalah bersaing.
Ketiga, impor tin solder yang tidak dikenakan bea masuk menyebabkan produk
lokal tidak kompetitif. Keempat, regulasi ekspor yang masih membatasi spesifikasi
produk padahal pasar global sangat bervariasi. Kelima, pelaku industri hilir
selama ini tidak memperoleh insentif fiskal, finansial, maupun dukungan kawasan
industri sehingga harus bergerak sendiri tanpa kebijakan afirmatif.
Ali menilai persoalan tersebut
harus bisa dijawab melalui rekayasa kebijakan yang komprehensif, terutama
karena timah merupakan komoditas strategis yang menopang banyak industri
teknologi. Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi pusat industrialisasi
material berbasis timah apabila hilirisasi dijadikan agenda nasional bersama
MIND ID sebagai lokomotifnya.
“MIND ID punya mandat besar.
Dukungan terhadap PT Timah itu kunci. Kalau hilirisasi timah didorong sebagai
bagian dari industrialisasi domestik, rantai pasok elektronik, otomotif,
energi, semuanya bisa tumbuh di dalam negeri,” ujarnya.
Ia menekankan keberhasilan
hilirisasi timah akan bergantung pada empat pilar utama: penjaminan pasokan
legal dan berkelanjutan, peningkatan kualitas produk dan teknologi proses,
pembangunan ekosistem industri domestik yang kuat, serta penempatan positioning
global melalui standar ESG dan inovasi. Tanpa itu, Indonesia akan terus berada
di posisi sebagai pemasok bahan mentah meskipun cadangannya termasuk terbesar
di dunia.
“Tin solder dan tin chemical
adalah langkah awal. Transformasi lebih besar masih harus dibangun. Kalau
kebijakan fiskal diperkuat, insentif diperjelas, dan ekosistem industrinya
dipercepat, Indonesia bisa naik kelas dan memainkan peran global,” tegasnya.
Ali menambahkan bahwa
hilirisasi timah harus diperlakukan bukan sebagai program sektoral, tetapi
sebagai prioritas industri nasional. Ia menilai MIND ID dapat menjadi
pengungkit utama yang memimpin konsolidasi ekosistem, memperkuat rantai pasok,
serta mendorong tumbuhnya permintaan domestik. “Dengan peran MIND ID yang
semakin strategis, hilirisasi timah ini bisa menjadi fondasi industrialisasi
Indonesia. Ini momentum besar yang tidak boleh hilang,” ujarnya. (Wahyono)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

