- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Ekspansi Sawit Meluas, Produktivitas Turun, Kontribusi Pajak Rendah
.jpg)
JAKARTA — Lembaga riset dan advokasi
ekonomi-lingkungan Transisi Bersih menilai sektor hulu industri kelapa sawit
Indonesia menghadapi persoalan struktural serius, yaitu ekspansi lahan terus
berlanjut, produktivitas perkebunan menurun, sementara kontribusi fiskalnya
tidak sebanding dengan skala ekonomi yang dihasilkan.
Temuan ini disampaikan dalam peluncuran kajian “Dinamika
Sektor Hulu Sawit di Indonesia: Ekspansi Lahan, Rendahnya Produktivitas, dan
Kesenjangan Kontribusi Fiskal” di Jakarta, Rabu (10/12/2025). Direktur
Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum, mengatakan bahwa krisis ekologis
yang ditandai dengan banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera tidak dapat
dilepaskan dari pola pengelolaan sawit yang bertumpu pada perluasan lahan.
“Ekspansi sawit masih menjadi strategi utama industri,
padahal dampak ekologisnya kian berat. Risiko lingkungan ditanggung masyarakat,
sementara manfaat ekonominya terkonsentrasi ke kelompok-kelompok usaha,” ujar
Rahman.
Baca Lainnya :
- Tinjau Titik Terparah Aceh Tamiang, AHY Petakan Kerusakan Infrastruktur dan Salurkan Bantuan0
- Habitus Amran Sulaiman Merespon Cepat Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera0
- Presiden: 200 Helikopter Perkuat Kesiapsiagaan Nasional Terutama Penanganan Bencana0
- Banjir dan Longsor di Sumatera: 12 Komunitas Masyarakat Adat di Tano Batak Terisolir 0
- Gakkum Kehutanan: Ada Indikasi Kerusakan di Hulu DAS yang Perparah Bencana di Hilir0
Kajian Transisi Bersih menunjukkan paradoks. meskipun
moratorium sawit diberlakukan sejak 2018, deforestasi dan perluasan lahan
perkebunan masih terus terjadi hingga 2024. Pada saat yang sama, produktivitas
sawit justru menunjukkan tren penurunan sejak 2019. Penurunan ini dipengaruhi
oleh kombinasi faktor iklim, penuaan tanaman, mahalnya biaya replanting, serta
lemahnya insentif kebijakan untuk intensifikasi kebun.
Peneliti Transisi Bersih, Aimatul Yumna, menjelaskan bahwa
struktur insentif ekonomi saat ini mendorong perusahaan membuka lahan baru
ketimbang melakukan peremajaan kebun. “Biaya membuka lahan baru jauh lebih
murah dibandingkan replanting yang mahal dan berisiko kehilangan pendapatan
selama tiga hingga empat tahun. Akibatnya, ekspansi lebih dipilih daripada
peningkatan produktivitas,” kata Yumna.
Dari sisi ekonomi, kajian ini juga menyoroti ketimpangan
distribusi nilai tambah industri sawit. Berdasarkan tabel input–output BPS,
sekitar 74 persen nilai tambah sawit dinikmati sebagai surplus usaha
perusahaan, sementara kompensasi tenaga kerja hanya sekitar 25 persen.
“Kontribusi pajaknyapun tercatat sangat kecil, yakni sekitar
satu persen dari total nilai tambah. Ini menunjukkan industri sawit sangat
menguntungkan, tetapi kontribusinya terhadap penerimaan negara dan
kesejahteraan pekerja masih terbatas,” tambah Yumna.
Rendahnya kontribusi fiskal tersebut, menurut Transisi
Bersih, diperparah oleh praktik under-invoicing dan lemahnya pengawasan pajak
dalam rantai ekspor sawit. Kondisi ini menyebabkan negara gagal menangkap
economic rent secara optimal, meskipun keuntungan industri sawit sangat besar.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Next Policy Yusuf
Wibisono mengungkapkan, sumber ekonomi terpenting negara selain ekonomi
domestik yaitu ekspor, dan salah satu ekspor terbesar adalah sawit. Sawit pun
menjadi hal yang krusial dalam pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, sawit boros lahan dan produktivitasnya kini
rendah. ”Mengenai produktivitas, apa yang berlangsung di dalam industri sawit
Indonesia itu bukan best practices. Mestinya bisa lebih besar hasil yang
kita peroleh,” katanya.
Tata Mustasya, Direktur Eksekutif SUSTAIN, melihat
pentingnya tata kelola industri sawit yang mempertimbangkan tiga aspek: ekonomi
(termasuk lapangan kerja), lingkungan, dan sosial. Jika hanya pertumbuhan
ekonomi yang dikejar, risikonya akan sangat berat. "Subsidi untuk
biodiesel saja begitu besar, mestinya biaya untuk konservasi lingkungan dan
kesejahteraan sosial lebih besar lagi," desaknya.
Melalui kajian ini, Transisi Bersih merekomendasikan tiga
agenda kebijakan utama: penguatan moratorium dan tata kelola perizinan untuk
menekan ekspansi lahan, penurunan biaya dan risiko replanting melalui
pembiayaan hijau dan insentif pajak, serta reformasi fiskal agar surplus
ekonomi sawit dapat dibagikan lebih adil dan mendorong peningkatan
produktivitas. “Tanpa pembenahan struktur insentif, industri sawit akan terus
menghasilkan keuntungan privat dan risiko publik,” ucap Rahman.
Rahman juga menekankan pentingnya redistribusi lahan setelah
terbukti tata kelola sawit yang tidak cukup adil bagi rakyat dan penerimaan
negara dilihat dari bencana ekologis yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan
Sumatera Barat.
“Lahan-lahan yang izinnya dicabut itu sebaiknya hanya
diproyeksikan untuk reforestasi, atau jika harus dikelola sebagai lahan sawit
pun harus diberikan pengelolaannya kepada rakyat. Ini penting agar biaya
ekologis dan kesenjangan ekonomi yang berlangsung selama ini bisa direduksi.
Agar tidak ada lagi bencana banjir bandang dan longsor yang mengerikan seperti
di Sumatera,” ujarnya. (jaylani)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

