- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Ekonom Indef Nilai Belum Terjadi Perubahan Signifikan di Struktural Ekonomi

Keterangan Gambar : Ekonom Senior Indef, M Fadhil Hasan-Istimewa
JAKARTA- Para ekonom yang tergabung dalam lembaga pemikiran Indef menilai belum terjadi perubahan struktural ekonomi yang signifikan selama 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Stabilitas yang tercapai dinilai sebagai
kelanjutan dari kebijakan sebelumnya, bukan hasil dari reformasi baru yang
mampu mendorong akselerasi pertumbuhan.
Ekonom
Senior Indef, M Fadhil Hasan menjelaskan pandangan tersebut hasil kajian
lembaganya terhadap capaian
ekonomi pemerintah, bukan bantahan atas hasil survei lain.
“Secara
umum, indikator makroekonomi menunjukkan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi
sekitar lima persen, inflasi di bawah tiga persen, dan penurunan tingkat
pengangguran terbuka,” papar dia
dalam keterangan resmi dikutip Jumat(24/10/2025).
Baca Lainnya :
- BI Laporkan Uang Beredar Tumbuh 8 Persen Tembus Rp9.771 Triliun0
- Pemerintah Diminta Kejar Konsumsi Susu Setara Negara Jiran 40 Liter Per Tahun0
- Perry Dkk Tahan BI Rate Di Level 4,75 Persen0
- Hero Gozali Dkk Kuras Saldo Laba Pelayaran Jaya Hidup Sebelum Rancang IPO Rp158,4 Miliar0
- Telkom Akan Alihkan Aset Serat Optik Rp35,7 Triliun Ikuti Tren Global0
Namun pada saat yang sama dia mendapati adanya
kesenjangan persepsi antara klaim pemerintah dan pandangan publik pada Program Makan Bergizi
Gratis (MBG). Pemerintah
menganggap program ini berhasil menjangkau banyak penerima manfaat, sementara
publik menyoroti efektivitas dan pemerataannya.
“Kebijakan
fiskal ekspansif dinilai mampu menjaga daya beli, tapi belum cukup efektif mendorong produktivitas
dan investasi jangka panjang,” tutur
Fadhil.
Contoh lainya, investasi
dalam negeri meningkat, tetapi arus investasi asing langsung justru melambat,
menandakan iklim investasi yang belum sepenuhnya kondusif. Struktur ekspor pun
masih bergantung pada komoditas primer seperti CPO, batu bara, dan nikel,
sementara sektor hilirisasi belum menunjukkan kemajuan berarti.
“Melalui pendekatan big data terhadap
delapan program prioritas (Asta Cita), Indef menemukan bahwa hilirisasi menjadi sektor
dengan sentimen negatif tertinggi kedua setelah MBG,” ungkap dia,
Fadhil melanjutkan, ketidaksesuaian
persepsi publik ini juga terlihat pada Kementerian ESDM yang mendapat sentimen
negatif meski memiliki sejumlah capaian penting.
“hal
ini mencerminkan lemahnya strategi komunikasi publik pemerintah dalam mengelola
persepsi dan eksposur hasil kerja,”
tutur dia.
Ia menekankan bahwa evaluasi kinerja satu
tahun pertama seharusnya mempertimbangkan konteks waktu yang singkat serta
perlunya penilaian yang lebih seimbang antara hasil faktual dan persepsi
publik.
Senada, Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko
Listiyanto menerangkan bahwa program
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang banyak mendapat sentiment negatif dari penggiat
sosial media.
“
Program ini memerlukan
pembenahan menyeluruh, terutama terkait banyaknya kasus keracunan makanan dan
besarnya alokasi anggaran. Strateginya perlu standardisasi dan sertifikasi
ketat, rasionalisasi target, realokasi anggaran jika pelaksanaan tidak sesuai
target, serta transparansi untuk mitigasi risiko korupsi,” urai Eko.
Terkait untuk isu Danantara (SWF Indonesia), dia menangkap
2 aspek yang perlu
diperhatikan. Pertama,
dampak makroekonomi pada pasar keuangan domestik. Kedua, aspek kelembagaan (governance,
transparansi).
“Danantara mengadaptasi praktik tata kelola SWF global 'Santiago Principles'.”Pungkas dia.(Abdul Aziz)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

