Logo Porosbumi
07 Agu 2026,
07 August 2026
LIVE TV

Dikira Orang Lewat, Ternyata Mentan Amran, Curhat Petani Semarang Berbuah Traktor

Yani Andriyansyah 06 Agu 2026, 20:01:36 WIB
Dikira Orang Lewat, Ternyata Mentan Amran, Curhat Petani Semarang Berbuah Traktor

Tidak ada yang menyangka percakapan singkat di tengah sawah berujung pada hadiah sebuah traktor. Jadiyah dan para petani perempuan di Desa Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, awalnya mengira pria yang menghampiri mereka, Kamis (6/8) hanyalah orang biasa yang sedang lewat dan ingin melihat aktivitas di persawahan.


Namun, dugaan itu ternyata meleset jauh.Pria yang mengajak mereka berbincang santai tersebut adalah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Lebih mengejutkan lagi, curhat para petani tentang aktivitas bertani yang masih dilakukan secara manual langsung mendapat respons. 


Amran spontan menawarkan satu unit traktor untuk kelompok tani. Momen tersebut terjadi saat Mentan Amran melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke persawahan Desa Wonosari. Di tengah aktivitas petani, Amran tidak sekadar melihat kondisi sawah dari kejauhan. Ia turun langsung, menghampiri para petani, kemudian berbincang mengenai kondisi usaha tani mereka.


Mayoritas petani yang ditemuinya merupakan ibu-ibu yang masih mengandalkan tenaga manual untuk mengolah dan menanam padi. Dari percakapan itulah Amran kemudian melontarkan pertanyaan yang membuat para petani terkejut.Kalau saya kasih satu traktor, bisa dipakai?


Tawaran traktor tersebut ternyata memunculkan persoalan baru. Jadiyah mengaku khawatir para petani belum memiliki kemampuan untuk mengoperasikan alat pertanian tersebut. Namun, Amran tidak ingin keterbatasan itu membuat bantuan menjadi sia-sia. Ia justru menawarkan solusi lain. Jika belum mampu mengoperasikan traktor sendiri, alat tersebut dapat disewakan kepada petani lain sehingga tetap menghasilkan pendapatan bagi kelompok tani. Kalau belum bisa mengoperasikan, disewakan saja. Kan sewanya sekitar satu juta rupiah per hektare. Nanti bisa menjadi tambahan pendapatan kelompok, ujar Amran.


Dengan begitu, traktor tidak hanya dipandang sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan di sawah, tetapi juga bisa menjadi aset produktif kelompok tani. Amran kemudian meminta jajarannya segera mencatat identitas kelompok tani agar bantuan traktor dapat segera diproses. Tak berhenti di situ, ia juga membuka kemungkinan memberikan alat tanam modern. Ini nanti traktornya saya kasih, supaya tidak lagi tanam pakai tangan. Kalau perlu kita bantu juga alat tanamnya, kata Amran.


Lucunya, ada satu momen yang membuat pertemuan di tengah sawah tersebut semakin menarik. Para petani ternyata tidak langsung mengetahui bahwa sosok yang menghampiri mereka adalah Menteri Pertanian. Amran bahkan sempat memperkenalkan dirinya dengan candaan. Saya ini ketua penyuluh petani.


Ucapan tersebut disambut tawa para petani. Jadiyah pun mengaku benar-benar tidak menyangka pria yang menghampiri mereka adalah pejabat negara. Ia semula mengira Amran hanyalah seseorang yang kebetulan melintas dan ingin melihat-lihat kondisi sawah. Saya benar-benar tidak menyangka itu Pak Menteri. Saya kira hanya orang yang lewat mau melihat-lihat sawah, ujar Jadiyah.


Pertemuan singkat itu akhirnya menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Jadiyah dan petani lainnya tidak hanya bisa berbicara langsung dengan Menteri Pertanian, tetapi juga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam bertani. Yang membuatnya semakin berkesan, keluhan tersebut langsung mendapat respons.


Alhamdulillah bisa bertemu langsung, menyampaikan keluh kesah kami, dan tidak menyangka langsung diberikan bantuan traktor. Kami senang sekali karena perhatian pemerintah benar-benar kami rasakan, kata Jadiyah.


Kisah di Desa Wonosari memperlihatkan bagaimana persoalan petani bisa ditemukan langsung ketika pejabat turun ke lapangan. Bagi petani, penggunaan alat dan mesin pertanian bukan hanya soal mengganti tenaga manusia dengan mesin. Modernisasi juga berkaitan dengan bagaimana pekerjaan menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu meningkatkan produktivitas.


Bagi kelompok tani, traktor bahkan berpotensi menjadi aset ekonomi apabila dikelola secara bersama dan disewakan kepada petani lain. Kementerian Pertanian pun terus mendorong modernisasi pertanian melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, peningkatan produktivitas, serta penguatan kesejahteraan petani.


Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan yang berkelanjutan. Dan di Desa Wonosari, proses itu bermula dari sebuah percakapan sederhana. Seorang menteri turun ke sawah. Petani bercerita. Lalu, sebuah traktor pun dijanjikan. Kadang, bantuan besar memang bisa berawal dari satu pertanyaan sederhana, Apa yang paling petani butuhkan?” (yans)

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```