- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
BI Laporkan Uang Beredar Tumbuh 8 Persen Tembus Rp9.771 Triliun

Keterangan Gambar : Ilustrasi Gedung BI-Istimewa
JAKARTA- Bank
Indonesia (BI) menilai likuiditas perekonomian atau uang
beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi dibanding
bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso
menyampaikan bahwa pertumbuhan M2 pada
September 2025 sebesar 8 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus
2025 sebesar 7,6 persen (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun.” tulis dia dalam
keterangan resmi, Kamis(23/10/2025).
Baca Lainnya :
- Pemerintah Diminta Kejar Konsumsi Susu Setara Negara Jiran 40 Liter Per Tahun0
- Perry Dkk Tahan BI Rate Di Level 4,75 Persen0
- Hero Gozali Dkk Kuras Saldo Laba Pelayaran Jaya Hidup Sebelum Rancang IPO Rp158,4 Miliar0
- Telkom Akan Alihkan Aset Serat Optik Rp35,7 Triliun Ikuti Tren Global0
- 30 Jurnalis Peserta Site Visit Saksikan Langsung Bisnis Tambang Grup MIND ID Hulu hingga Hilir0
Ia melanjutkan, perkembangan
tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7 persen
(yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2 persen (yoy). Perkembangan M2 pada September
2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan
tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).
Sedangkan aktiva luar negeri bersih pada September 2025 tumbuh sebesar 12,6
persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya
sebesar 10,7 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.085,3 triliun.
Penyaluran kredit pada September 2025 tumbuh 7,2 persen (yoy),
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya sebesar 7 persen
(yoy). Sebagai catatan, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman
(Loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang
dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (Debt Securities), tagihan akseptasi (Banker's Acceptances), dan Tagihan Repo.
Selain
itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor
Bank Umum yang berkedudukan di Luar Negeri, dan kredit yang disalurkan kepada
Pemerintah Pusat dan Bukan Penduduk.
Pada sisi lain, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 6,5
persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2025 sebesar 5
persen (yoy). (abdul aziz)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

