- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
15 Ribu Pohon Ditanam di Jabungan, Warga Masih Menanti Manfaat Ekonomi
1.jpg)
SEMARANG – Sejak 2022, Desa
Jabungan di pinggiran Kota Semarang menjadi salah satu lokasi penghijauan yang
digagas bersama LindungiHutan. Di lahan Perhutani seluas sekitar 32 hektare,
lebih dari 15 ribu pohon ditanam. Mayoritas tanaman yang ditanam adalah alpukat
dengan harapan menghijaukan kembali kawasan berbukit sekaligus memberi manfaat
ekonomi bagi masyarakat.
Namun perjalanan tidak mudah. Ahmad Rozin (45), anggota
kelompok tani setempat, mengenang momen awal penanaman pada Juli 2022.
“Sayangnya, waktu itu musim kemarau panjang. Banyak yang mati,” ujarnya. Hanya
sebagian tanaman bertahan berkat inisiatif warga mengalirkan air dengan pipa
sederhana dari sumber terdekat.
Meski tingkat keberhasilan belum maksimal, diperkirakan
sekitar 85% pohon mampu bertahan hingga kini, sejumlah perubahan positif sudah
terasa. Udara di sekitar Jabungan lebih sejuk, tanah yang dulu sulit ditanami
perlahan subur, bahkan muncul sumber air baru akibat resapan.
Baca Lainnya :
- Kaum Tani Bersama Masyarakat Adat Tano Batak Lawan Perampasan Tanah dan Perbudakan PT TPL0
- Peneliti BRIN Identifikasi Hama dan Penyakit Tanaman Hias Krisan, Begini Cara Mengatasinya!0
- Panitia Pengarah Tetapkan Calon Direktur Eksekutif Nasional dan Calon Dewan Nasional 2025–20290
- Menko AHY Tegaskan Pembangunan Infrastruktur Dasar untuk Sinergi Industri dan Transmigrasi0
- Spirit Kebersamaan dan Kesederhanaan di HUT ke-17 Pandutani Indonesia (Patani)0
“Dulu nanam singkong nggak bisa tumbuh. Sekarang sudah
banyak perubahan,” kata Rozin.
Catatan kelompok tani menyebutkan bahwa keterlibatan warga
cukup luas, dengan sekitar 30 orang aktif di Kelurahan Jabungan dan lebih dari
80 orang di tingkat Kabupaten. Mereka bergantian melakukan penyiraman dan
perawatan tanaman, meski belum sepenuhnya berjalan konsisten.
Kondisi geografis menjadi kendala utama. Kontur tanah yang
labil dan cuaca tidak menentu membuat perawatan ekstra diperlukan. Pada 2023,
misalnya, sebuah penanaman besar-besaran seribu pohon yang melibatkan media
nasional hanya menyisakan sekitar 30% pohon hidup karena dilakukan menjelang
kemarau. Selain itu, perawatan alpukat dinilai lebih rumit dibanding tanaman
keras lain.
“Sekarang baru kelihatan hijau saja. Untuk ekonomi belum.
Teman-teman juga kadang kurang minat, karena perawatan alpukat lebih sulit,”
ujar Rozin.
Meski demikian, warga tetap menghargai kontribusi
LindungiHutan yang menyediakan bibit dan membuka akses program konservasi.
Mereka berharap dukungan bisa lebih luas, tidak berhenti di distribusi bibit.
“Harapannya jangan hanya bibit, tapi juga ada bimbingan,
pupuk, dan pelatihan agar tanaman jangka panjang bisa dirawat dengan baik,”
ungkap Rozin.
Operational Manager LindungiHutan, Aminul Ichsan, menyebut
pihaknya mempertimbangkan edukasi mengenai agroforestri agar penghijauan bisa
selaras dengan peningkatan ekonomi warga. “Kami melihat Jabungan punya potensi
alpukat, tapi juga bisa dikombinasikan dengan tanaman sela, seperti jahe atau
kopi,” katanya.
Jika seluruh pohon alpukat yang ditanam bisa tumbuh hingga
produktif, potensi panen mencapai lebih dari 5 ton per tahun dengan nilai jual
hingga ratusan juta, menurut estimasi kelompok tani. Namun, hasil itu baru bisa
dipetik dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Bagi masyarakat Jabungan, program ini masih menyisakan
perjalanan panjang. Walau hasil ekonomi belum dirasakan, mereka percaya jika
semua pihak terus mendukung, penghijauan ini akan membawa manfaat besar. “Kalau
LindungiHutan semakin sukses, tentu masyarakat juga ikut merasakan. Semoga ke
depan sinerginya makin baik,” tutup Rozin.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

