Logo Porosbumi
24 Jul 2026,
24 July 2026
LIVE TV

Wajah Garang di Ujung Perahu: Mengungkap Rahasia Kejayaan Maritim Surakarta

PorosBumi 24 Jul 2026, 16:45:34 WIB
Wajah Garang di Ujung Perahu: Mengungkap Rahasia Kejayaan Maritim Surakarta
Chantik Rajamala koleksi Museum Keraton Surakarya. Proses pembuatannya pun tidak lepas dari dimensi spiritual. MUSEUM SOLO

HARUM dupa semerbak memenuhi ruangan, menyambut setiap pengunjung yang memasuki Museum Radya Pustaka, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Aroma itu seolah membawa ingatan pada ruang-ruang keraton di masa lalu terasa hening, sakral, dan penuh wibawa.

Di sudut ruang pameran, sebuah patung kepala raksasa berwarna merah dengan sorot mata melotot tampak mencuri perhatian, seakan mengawasi siapa pun yang melintas di hadapannya.

Sorot matanya tajam, hidungnya runcing menjorok ke depan, sementara taring yang mencuat dari mulutnya memberi kesan garang yang sulit diabaikan.

Tak sedikit pengunjung yang berhenti sejenak, menatapnya dengan campuran rasa takjub dan waswas. Sosok itu dikenal sebagai ornamen Canthik Rajamala yang terpasang di bagian depan Perahu Kyai Rajamala.

“Canthik Rajamala sering didengar sebagai mitos dan cerita rakyat. Padahal keberadaannya nyata dan pernah menjadi simbol kejayaan Keraton Kasunanan Surakarta dalam menyebarkan pengaruhnya dari hulu hingga ke muara Sungai Bengawan Solo,” kata Petugas Museum Radya Pustaka, Alif.

Gagasan dari Seorang Calon Raja

Dikutip dari laman resmi jatengprov.go.id, Perahu Kyai Rajamala merupakan karya KGPAA Mangkunagoro III pada abad ke-18.Beliau figur yang kelak naik takhta sebagai Paku Buwono V. Ia adalah putra mahkota Paku Buwono IV yang dikenal dengan nama Raden Mas Sugandi.

Di tangannya, gagasan tentang kekuasaan tidak hanya diwujudkan melalui struktur pemerintahan atau kekuatan militer, tetapi juga melalui simbol yang mampu “berbicara” tanpa kata.

Proses pembuatannya pun tidak lepas dari dimensi spiritual. Kayu jati yang digunakan berasal dari Hutan Donoloyo, kawasan yang sejak lama dikenal memiliki nilai magis dan berada dalam penguasaan keraton.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pohon-pohon jati di hutan itu diyakini akan tumbang dengan sendirinya ketika keraton membutuhkan bahan untuk pembangunan.

Keyakinan ini mencerminkan relasi yang erat antara manusia, alam, dan kekuasaan dalam tradisi Jawa. Nama “Rajamala” diambil dari tokoh pewayangan berwujud raksasa setengah manusia yang dipercaya memiliki kekuatan menolak bala.

“Kendaraan Dinas” di Jalur Air

Perahu Kyai Rajamala bukan sekadar alat angkut, melainkan representasi kekuatan yang bergerak di atas air. Dengan panjang mencapai 58,9 meter dan lebar 6,5 meter, dimensinya menjadikannya sebagai salah satu kapal terbesar pada masanya.

Tubuhnya yang memanjang membelah arus Bengawan Solo, membawa tidak hanya penumpang, tetapi juga simbol kebesaran keraton.

Bahkan, dayung sepanjang 6,6 meter yang digunakan menjadi penanda kemampuan teknis sekaligus kekuatan manusia yang menggerakkannya. Di atas perahu inilah aktivitas kerajaan berlangsung melintasi sungai.

Pada masa Paku Buwono IV, sang ratu tercatat pernah menggunakan Kyai Rajamala untuk perjalanan ke Madura untuk sebuah perjalanan panjang yang menegaskan fungsi kapal ini sebagai sarana mobilitas elite kerajaan.

Tidak berhenti di situ, perahu ini juga melayani rute dari Surakarta menuju wilayah hilir seperti Bojonegoro hingga Gresik, menjadikannya penghubung penting antara pusat kekuasaan di pedalaman dengan kawasan pesisir utara Jawa.

Menariknya, perjalanan itu tidak hanya bersifat administratif atau politik. Kyai Rajamala juga membawa unsur kebudayaan dalam setiap pelayarannya. Satu set gamelan Kyai Senggani Laras dengan laras slendro dan pelog kerap turut dibawa.

Di tengah perjalanan sungai, bunyi gamelan kemungkinan mengalun, menciptakan suasana yang bukan hanya megah, tetapi juga sarat identitas budaya Jawa.

“Dahulu memang super power sekali. Ini dipakai untuk alat transportasi sekaligus menyebarkan pengaruh dominasi kerajaan sampai ke wilayah hilir Bengawan Solo,” ujar Alif.

Ketika Sungai Tak Lagi Ramah

Memasuki masa Paku Buwono X (1893–1939), Perahu Kyai Rajamala masih digunakan dan bahkan sempat mengalami renovasi. Namun, dalam tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, proses tersebut diwarnai peristiwa yang dianggap tidak lazim warga di sekitar galangan kapal kerap jatuh sakit.

Situasi ini kemudian dimaknai sebagai pertanda buruk, hingga nama “Rajamala” diganti menjadi “Rajanegara” sebagai upaya meredam pengaruh yang dianggap tidak menguntungkan.

Kajian Geomorfologi yang dilakukan Sutikno dkk pada 2007, menunjukkan bahwa Bengawan Solo mengalami peningkatan sedimentasi sejak akhir abad ke-19, yang menyebabkan pendangkalan dan perubahan alur sungai. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya kelayakan navigasi bagi kapal-kapal berukuran besar.

Sementara itu, Kajian Historis Sulistiyono dkk pada 2003, mencatat bahwa pada periode yang sama terjadi pergeseran sistem transportasi di Jawa, dari jalur sungai menuju jalur darat seiring berkembangnya infrastruktur kolonial.

Kombinasi perubahan alam dan transformasi sistem transportasi inilah yang pada akhirnya mengakhiri peran strategis sungai, termasuk bagi operasional perahu besar seperti Kyai Rajamala.

Dalam konteks itulah, meredupnya Perahu Kyai Rajamala tidak sekadar menandai berakhirnya fungsi sebuah alat transportasi, melainkan juga perubahan lanskap besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Bengawan Solo yang dahulu menjadi ruang ekspansi kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta, perlahan berubah menjadi batas alami yang tak lagi mudah ditaklukkan. Perubahan geografis ini sekaligus menandai berakhirnya dominasi maritim Keraton Kasunanan Surakarta.

Dari Artefak ke Identitas Modern

Kini, peninggalan Perahu Kyai Rajamala tidak lagi mengarungi Bengawan Solo, tetapi tersimpan sebagai artefak bersejarah di dua museum di Kota Surakarta.

Bagian buritan dirawat di Museum Keraton Kasunanan, sementara bagian haluan yang berukuran lebih besar dipamerkan di Museum Radya Pustaka.

Keberadaan kedua bagian ini menjadi jejak fisik yang menegaskan bahwa kejayaan maritim Keraton Kasunanan Surakarta bukan sekadar cerita, melainkan pernah hadir dan berfungsi nyata.

Namun, kisah Rajamala tidak berhenti sebagai benda mati di ruang pamer. Pemerintah Kota Surakarta menghidupkannya kembali sebagai simbol identitas kota.

Melalui rilis resmi Pemerintah Kota Surakarta, Rajamala ditetapkan sebagai maskot Hari Jadi ke-277 pada tahun 2022 sebuah langkah yang menandai upaya mengangkat kembali warisan budaya lokal ke ruang publik yang lebih luas.

“Sekarang Rajamala tidak hanya dikenal sebagai koleksi museum, tetapi juga sudah menjadi simbol kota. Jadi masyarakat lebih mudah mengenal sejarahnya,” ujar Alif.

Upaya tersebut tidak berhenti di tingkat lokal. Dalam ajang ASEAN Para Games ke-11 tahun 2022 yang digelar di Surakarta, Rajamala turut dihadirkan sebagai bagian dari identitas visual acara, sebagaimana disampaikan dalam publikasi resmi pemerintah daerah dan penyelenggara.

Kehadirannya di panggung internasional menunjukkan bagaimana simbol lama dapat memperoleh makna baru di tengah dinamika zaman. “Dengan dijadikan maskot, Rajamala seperti dihidupkan kembali. Tidak hanya untuk dikenang, tapi juga diperkenalkan ke generasi sekarang,” tambahnya.

Jejak yang Terus Mengalir

Perahu Kyai Rajamala menjadi salah satu penanda bahwa kekuatan tidak hanya dibangun di darat, tetapi juga di atas air. Perahu itu merepresentasikan inovasi, strategi, dan visi kekuasaan yang memanfaatkan jalur alam sebagai penghubung peradaban.

Pada masanya, kehadiran perahu ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol bergerak dari otoritas yang menjangkau wilayah luas melalui Bengawan Solo.

Ketika modernisasi dan pembangunan infrastruktur darat menggeser banyak fungsi sungai, peran Bengawan Solo memang tak lagi seperti dahulu. Namun, kisah Perahu Kyai Rajamala justru menemukan relevansinya kembali.

Di tengah upaya pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal, narasi tentang kejayaan maritim Keraton Surakarta menjadi pengingat bahwa peradaban besar pernah tumbuh dari kedekatan manusia dengan alam.

Selama ingatan itu dirawat dan diceritakan kembali, jejaknya akan terus mengalir, seperti Bengawan Solo yang tak pernah benar-benar berhenti. (sumber: indonesia.go.id)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```