Logo Porosbumi
Rabu,
18 March 2026
LIVE TV

Tilik Tulisan Tangan (1)

PorosBumi 18 Mar 2026, 05:14:43 WIB
Tilik Tulisan Tangan (1)

Anton Suparyanta
Esais dan manajer editorial divisi buku seni di penerbit Intan Pariwara Edukasi, Klaten-Jateng


PENDIDIKAN nasional sering terjebak dalam diskursus kebijakan makro yang elitis. Negara sibuk diri berdebat tentang digitalisasi atau peringkat Programme for International Student Assessment (PISA), tetapi kerap melupakan detail fundamental yang menjadi fondasi peradaban.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Oktober 2025 silam, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam mengenai degradasi standar tulisan tangan murid di Indonesia. Presiden tidak sekadar memberikan instruksi teknis. Beliau sedang mengurai benang kusut pedagogi dasar yang terabaikan di balik gempuran teknologi digital dan akal imitasi (Artificial Intelligence).

Di tengah kepungan AI yang menawarkan kecepatan tanpa proses, menulis tangan adalah tindakan reflektif untuk menjaga orisinalitas pemikiran tetap membumi. Upaya mengungkai ini menjadi sinyal penting. Kemajuan teknologi tidak boleh menanggalkan kemampuan mendasar manusia ketika mengolah simbol secara mandiri.

Tulisan tangan bukan sekadar keterampilan motorik kuno. Tulisan tangan (handwriting) adalah manifestasi dari ketelitian, disiplin, dan struktur berpikir seseorang. Ketika standar tulisan tangan merosot, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang runtuh dalam sistem kognitif generasi muda bangsa. Negara sedang membicarakan adab dan ketepatan yang mulai memudar dari meja-meja sekolah. 

Goresan tangan yang berantakan sering mencerminkan kegagapan dalam mengorganisasi ide secara sistematis. Menulis tangan berfungsi sebagai bentuk resistensi kognitif terhadap pendangkalan nalar yang serbainstan. Oleh karena itu, memperbaiki cara menulis adalah langkah awal untuk menata kembali pola pikir anak bangsa yang lebih terukur, sabar, dan elegan.

Akar Keropos

Ambruknya standar penulisan ini dapat ditelusuri dari pengeroposan tradisi pendidikan guru. Pada era Sekolah Pendidikan Guru (SPG) beberapa tahun silam, terdapat kurikulum rigid yang melatih calon guru untuk menguasai teknik menulis tegak bersambung secara paripurna. Guru pada masa itu adalah personifikasi standar bagi murid. 

Mereka mampu mendemonstrasikan anatomi huruf yang sempurna, baik di atas kertas maupun di papan tulis dengan pensil, pena, pun kapur tulis. Setiap lengkungan huruf memiliki aturan yang ditaati dengan disiplin tinggi. Standar yang ketat ini memastikan bahwa setiap calon pendidik membawa marwah literasi yang sama sebelum mereka melangkah ke depan kelas sebagai patron peradaban.

Saat ini negara menyaksikan banyak guru muda yang kehilangan kemampuan ortografis. Tanpa pembekalan yang kuat di lembaga pendidikan tenaga kependidikan, guru kehilangan wibawa sebagai patron atau contoh yang mumpuni. Akibatnya, murid tidak lagi memiliki referensi visual yang benar tentang cara sebuah kata seharusnya dibentuk secara anatomis.

Kemudian tulisan tangan hanya dianggap sebagai alat komunikasi yang "asal terbaca", bukan sebagai bagian dari pembentukan karakter. Kekosongan teladan ini menciptakan rantai degradasi yang memutus warisan keindahan dan keakuratan dalam menulis. Guru seharusnya menjadi jendela pertama bagi murid untuk melihat betapa luhur sebuah teks yang disusun dengan ketelitian tangan manusia.

Problem ini digelontor oleh malapraktik pengajaran pada usia dini. Ada tekanan luar biasa agar anak mampu menulis sebelum kematangan motorik halus mereka tercapai di jenjang PAUD. Pemaksaan ini justru merusak pola pembentukan huruf. Anak cenderung mencari cara instan untuk meniru bentuk tanpa memahami proses goresan. 

Ironisnya, kegagalan ini juga dipicu oleh buku teks yang memuat representasi huruf yang keliru. Apakah kerancuan pada anatomi huruf "f", "g", atau "j" muncul dalam buku cetak? Bagaimana memahamkan kapitil dan kapital “a”, “m”, “n”  ketika menulis halus atau tegak bersambung? Mungkinkah abai terhadap standar baku Keputusan Dirjen Dikmen No. 094/C/Kep/I.83 dan perbaikannya tahun 2009? Ketidakkonsistenan visual dalam buku teks ini membingungkan nalar anak yang sedang berada dalam tahap krusial pengenalan bentuk dasar.

Visi Kertas B5

Mungkinkah kita akan beralih dari ukuran kertas A5 ke B5 yang bisa dikatakan sangat revolusioner? Dalam perspektif ergonomi pendidikan, ukuran kertas memiliki pengaruh besar terhadap kebebasan gerak tangan dan perkembangan psikomotorik. 

Kertas B5 memberikan ruang artikulasi motorik yang lebih luas bagi jari-jemari anak agar tidak terbelenggu. Peralihan ini mencegah tulisan menjadi kerdil dan berimpitan akibat keterbatasan ruang. Perpindahan ke B5 bukan sekadar perkara centimeter, melainkan upaya memerdekakan ruang kognitif anak. Gerak kreasi anak dilapangkan dari kungkungan format yang serba-minimalis.

Ruang yang sempit pada kertas A5 selama ini secara tidak langsung membentuk mentalitas yang serba-terbatas dan tergesa-gesa pada anak. Ruang yang lebih lega pada format B5 memungkinkan anak-anak untuk mengeksplorasi tinggi dan rendahnya huruf secara proporsional.

Upaya ini adalah bentuk penghormatan terhadap proses belajar itu sendiri yang membutuhkan ruang artikulasi yang layak. Agar arahan ini tidak sekadar menjadi instruksi administratif, diperlukan reorientasi kurikulum yang berfokus pada kedalaman.(bersambung)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 1)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```