Infrastruktur Jalan dan Air Dibangun, Harapan Baru Masyarakat Wanam, Papua Selatan untuk Maju
PENGEMBANGAN Kawasan Swasembada Pangan, Energi,
dan Air Nasional (KSPEAN) di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, tidak
hanya diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu,
pembangunan ini menjadi investasi besar negara untuk membuka kesempatan kerja,
menggerakkan ekonomi lokal, serta menumbuhkan mimpi baru bagi masyarakat Papua
Selatan.
Bagi Mamak
Ema, warga Kampung Wogikel, harapan dari pembangunan KSPEN di Wanam sangat
sederhana. Suatu hari nanti, keluarganya tidak perlu lagi membeli beras dari
luar kampung. “Selama ini kami beli beras. Kalau nanti kami sudah punya beras
sendiri, kami tidak perlu beli beras lagi. Itu yang kami harapkan,” ujar Mamak
Ema.
Harapan itu
kini mulai tumbuh seiring hadirnya pembangunan infrastruktur Kementerian
Pekerjaan Umum di Wanam. Di atas lahan yang sebelumnya berupa rawa dan belum
dapat dimanfaatkan secara optimal, pemerintah membangun jalan, menyiapkan air,
membuka akses, dan mempersiapkan kawasan pertanian yang diharapkan menjadi
sumber penghidupan baru bagi masyarakat.
Baca Juga
Menurut Mamak
Ema, pembangunan akan semakin terasa apabila akses jalan di kampung juga terus
ditingkatkan. Jalan yang baik, kata dia, bukan hanya memudahkan orang dewasa
bekerja, tetapi juga membantu anak-anak berangkat sekolah dengan lebih aman.
“Kalau
program ini jalan terus, kami berharap kampung ini juga maju. Masyarakat bisa
kerja, anak-anak juga lebih mudah ke sekolah kalau jalannya bagus. Harapan kami
jalan di kampung bisa diaspal. Kalau hujan, jalannya berlumpur, anak-anak
kadang tidak bisa ke sekolah karena jatuh di jalan,” ujarnya.
Pengembangan
KSPEAN di Wanam menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pangan yang
terintegrasi melalui penyediaan infrastruktur sumber daya air, konektivitas,
dan infrastruktur dasar lainnya.
Selaras
dengan semangat PU608, pembangunan infrastruktur diarahkan untuk menghadirkan
manfaat yang nyata bagi masyarakat, mulai dari akses yang terbuka, lapangan
kerja yang tercipta, aktivitas ekonomi yang tumbuh, hingga kesempatan yang
lebih besar bagi warga untuk maju.
Dari jalan
yang mulai terbuka dan air yang mulai ditata, Wanam kini sedang menanam sesuatu
yang lebih besar dari sekadar padi. Di tanah Papua Selatan, mimpi baru mulai
tumbuh. Mimpi tentang kampung yang lebih maju, masyarakat yang lebih mandiri,
anak-anak yang lebih mudah bersekolah, dan masa depan yang dibangun dari tanah
sendiri bersama Kementerian PU.
Menteri
Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan di Wanam tidak boleh
dilihat hanya dari angka panjang jalan, luas lahan, atau progres fisik
pekerjaan. Di balik pembangunan tersebut, ada masyarakat yang menunggu
perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Di Wanam,
kita tidak sedang membangun jalan dan saluran air semata. Kita sedang membuka
jalan hidup baru bagi masyarakat. Ada ibu-ibu yang ingin berasnya tumbuh dari
kampung sendiri, ada anak-anak yang ingin berangkat sekolah dengan lebih
nyaman, dan ada warga yang ingin punya pekerjaan dari tanahnya sendiri. Itu
yang harus kita jaga,” kata Menteri Dody.
Menurut
Menteri Dody, infrastruktur sumber daya air dan konektivitas menjadi fondasi
penting agar lahan yang sebelumnya sulit dimanfaatkan dapat tumbuh menjadi
kawasan produktif. Dengan air yang tertata dan akses yang terbuka, masyarakat
diharapkan dapat ikut bergerak bersama pembangunan kawasan.
“Kalau
airnya ada, lahan bisa hidup. Kalau jalannya terbuka, hasil panen bisa keluar.
Kalau masyarakat ikut bekerja dan ekonominya bergerak, maka pembangunan ini
bukan hanya terlihat di peta, tetapi terasa sampai ke rumah-rumah warga. Bagi
saya, di situlah arti infrastruktur yang sebenarnya,” ujar Menteri Dody.
Untuk
mendukung kawasan tersebut, Kementerian PU membangun jaringan irigasi primer,
bangunan pintu-pintu air, drainase primer dan sekunder serta pengendalian
banjir guna menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Dari sisi
konektivitas, Kementerian PU juga membangun Jalan Wanam-Muting sepanjang 138,5
kilometer, koridor Jalan Merauke-Kaliki-Nakias-Bade sepanjang 206,2 kilometer,
serta koridor Wogikel-Wanam sepanjang 11,93 kilometer.
Pembangunan
jalan tersebut diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, mempercepat
distribusi hasil pertanian, menekan biaya logistik, serta meningkatkan akses
warga terhadap sekolah, layanan kesehatan, pasar, dan pusat kegiatan ekonomi.
Hingga awal
Juli 2026, progres pembangunan infrastruktur sumber daya air telah mencapai
27,36 persen, sedangkan pembangunan jalan dan konektivitas mencapai 22 persen.
Seluruh pekerjaan dipersiapkan untuk mendukung kegiatan pertanian, sekaligus
mendorong tumbuhnya pusat ekonomi baru di Papua Selatan.
Perubahan
itu mulai dirasakan masyarakat. Kepala Kampung Wanam, Kosmas Sirilus Dawi
Gaise, mengatakan pembangunan kawasan membuka cara pandang baru terhadap mata
pencaharian warga. Jika sebelumnya sebagian besar masyarakat mengandalkan
berburu dan menangkap ikan, kini pertanian mulai dilihat sebagai peluang untuk
hidup lebih mandiri.
“Dulu kami
pikirannya masih berburu dan mencari ikan. Sekarang masyarakat mulai terbuka
wawasannya. Kami melihat pertanian ini bisa jadi pekerjaan, hasilnya bisa kami
makan sendiri, dan juga bisa dijual. Kami ingin kampung ini berubah menjadi
lebih baik,” ujar Kosmas.
Menurut
Kepala Balai Wilayah Sungai Papua Merauke Nonce Saman, pembangunan
infrastruktur di Wanam juga akan diikuti dengan pendampingan kepada masyarakat.
Pemerintah ingin memastikan infrastruktur yang dibangun dapat dimanfaatkan
secara berkelanjutan oleh warga setempat.
“Kami tidak
hanya menyelesaikan pekerjaan konstruksi. Kami juga akan mendampingi
masyarakat, mengajarkan cara mengelola air irigasi dan bertani bersama.
Harapannya, masyarakat di sini bisa menjadi petani yang mandiri,
perekonomiannya meningkat, dan pembangunan ini benar-benar memberi manfaat
jangka panjang,” ujar Nonce. (may)
