Teknologi MAS Jaga Kualitas Benih Bawang Merah Selama Penyimpanan
TIM periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuktikan bahwa pengaturan suhu dan konsentrasi oksigen pada sistem Modified Atmosphere Storage (MAS) mampu mempertahankan kualitas benih bawang merah selama penyimpanan.
Temuan ini membuka peluang penerapan teknologi pascapanen
yang lebih efektif untuk menjaga mutu benih, mengurangi kehilangan hasil, serta
mendukung ketersediaan benih berkualitas bagi petani.
Peneliti PRTPP BRIN, Nugroho Siswanto, mengungkapkan bawang
merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia yang
memiliki umur simpan relatif pendek akibat tingginya laju respirasi dan
aktivitas metabolisme setelah panen. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas
benih mudah menurun apabila tidak disimpan pada kondisi yang tepat.
Baca Juga
Ia bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada
menganalisis pengaruh lama penyimpanan, suhu, dan konsentrasi oksigen terhadap
kualitas benih bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum L. Back) menggunakan
teknologi MAS.
“Hasil penelitian menunjukkan pengaruh suhu penyimpanan
terhadap kualitas benih bawang merah jauh lebih besar dibandingkan konsentrasi
oksigen. Kombinasi suhu rendah 5 derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen 5
persen memberikan kondisi penyimpanan terbaik untuk mempertahankan mutu benih,”
kata Nugroho, Selasa (30/6).
Penelitian tersebut menggunakan rancangan three-way repeated
measures dengan tiga faktor utama, yaitu lama penyimpanan selama sembilan
minggu, suhu penyimpanan 5°C, 15°C, dan 28°C, serta konsentrasi oksigen sebesar
5 persen, 10 persen, dan 21 persen.
Selama penyimpanan, tim peneliti mengamati berbagai
parameter kualitas, meliputi warna umbi (L*, a*, b*), hue angle, kroma,
perbedaan warna (total color difference), kandungan padatan terlarut (total
soluble solids), serta tingkat kekerasan umbi.
Hasil penelitian menunjukkan selama penyimpanan terjadi
peningkatan nilai komponen warna b*, hue angle, perbedaan warna, dan kandungan
padatan terlarut. Sebaliknya, tingkat kecerahan warna (L*), komponen warna a*,
nilai kroma, dan kekerasan umbi mengalami penurunan. Namun, perubahan tersebut
dapat ditekan melalui pengaturan suhu dan komposisi atmosfer selama
penyimpanan.
Nugroho menjelaskan perlakuan penyimpanan pada suhu 5
derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen 5 persen memberikan hasil terbaik
dalam mempertahankan mutu benih. Perlakuan tersebut mampu menjaga kekerasan
umbi tetap tinggi sekaligus memperlambat perubahan warna dan peningkatan
kandungan padatan terlarut dibandingkan perlakuan lainnya.
“Teknologi MAS pada suhu rendah dan kadar oksigen rendah
berpotensi menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan benih bawang merah
tanpa menurunkan kualitasnya secara signifikan. Teknologi ini dapat diterapkan
sebagai sistem penyimpanan benih yang lebih efisien sehingga mendukung
produktivitas pertanian nasional,” jelasnya.
Teknologi MAS bekerja dengan mengatur komposisi gas di dalam
ruang penyimpanan sehingga laju respirasi dan proses metabolisme hasil
pertanian dapat diperlambat. Dengan menekan aktivitas fisiologis tersebut,
kualitas produk dapat dipertahankan lebih lama dibandingkan penyimpanan
konvensional.
Penerapan teknologi penyimpanan yang tepat diharapkan mampu
mengurangi kehilangan hasil pascapanen, menjaga ketersediaan benih bermutu bagi
petani, serta mendukung ketahanan pangan nasional. Hasil riset ini telah
dipublikasikan dalam jurnal Advances in Agricultural and Food Research Journal
pada 8 April 2026. (frw, ky/ed: tnt)
