Logo Porosbumi
09 Okt 2026,
09 October 2026
LIVE TV

500 Guru di Jakarta Menulis dan Gagas Buku Antologi untuk Kado Hari Guru

PorosBumi 09 Okt 2026, 09:32:56 WIB
500 Guru di Jakarta Menulis dan Gagas Buku Antologi untuk Kado Hari Guru

SEBANYAK 500 guru menulis pengalaman mengajarnya, sebuah cara luar biasa untuk membagikan kisah nyata, mengevaluasi praktik mengajar, sekaligus memberikan inspirasi kepada sesama pendidik, lebih luas lagi khalayak umum.

Format ini menggabungkan antara pengalaman personal (narasi) dan teori pendidikan (analisis). Teristimewa, karya tulis tenaga pendidik ini nantinya akan dibukukan untuk kado Hari Guru pada 25 November 2026.

Inisiatif mulia ini digagas para guru yang tergabung dalam komunitas Guru Literasi Jakarta Timur 2 (Gliterjak T2). Workshop menulis secara daring, yang berlangsung Senin (5/10/2026), menghadirkan tiga narasumber berkompeten di bidangnya.

Mereka adalah Hendri Irawan (Pemimpin Redaksi porosbumi.com/eks Redaktur Koran SINDO), Jailani Ali Muhammad (editor buku/penyair/eks Redaktur Bahasa Koran SINDO), dan Abdul Aziz (jurnalis/pengarang buku Di Atas Kapal Firaun).

Hadir dalam acara ini, Kasubkel Kurikulum Bidang SD Dinas Pendidikan Prov DKI Jakarta, Wahyono; Kepala Sudin Pendidikan Wil 2 Kota Administrasi Jakarta Timur sekaligus Pembina Gliterjak, Dr Horale Tua Simanulang MM yang diwakili Ibu Rusdah selaku Kasi PAUD; Kasi SD Pendidikan Wil 2 Kota Administrasi Jakarta Timur, Dr Jumadi MM; dan Kasi SMP/SMA Sudin Pendidikan Wilayah 2 Kota Administrasi Jakarta Timur, Sriyadi.

Lalu, Kasi SMK Sudin Pendidikan Wil 2 Kota Administrasi Jakarta Timur, Wanito Handoyo; Kasatlakcam Sudin Pendidikan Wil 2 Kota Administrasi Jakarta Timur; K3S/MKKS Jakarta Timur 2, Kepala SMPN 103 dan 109; Ketua Gliterjak DKI Jakarta, Sri Kustiah; Penilik dan Pengawas Sudin Pendidikan Wil 2 Kota Administrasi Jakarta Timur; serta Kepala Satuan Pendidikan Wilayah Jakarta Timur 2.

Ketua Gliterjak T2, Lia Emilia dalam pengantarnya menyampaikan, bahwa di tengah tantangan peningkatan kualitas literasi peserta didik, hasil PISA (Programme for International Students Assessment) 2025 kembali mengingatkan para guru akan pentingnya penguatan kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, dan mengomunikasikan gagasan.

Karena itu, Gliterjak T2 berkolaborasi dengan Suku Dinas Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Timur Wilayah II mengajak seluruh guru dari semua jenjang berpartisipasi dalam "Workshop dan Pelatihan Menulis" ini.

"Tuliskan praktik baikmu, agar manfaatmu menjangkau lebih banyak guru. Jadikan pengalaman dan praktik baik selama mendidik sebagai karya yang terdokumentasi, terbaca, dan dapat menginspirasi guru lainnya. Guru tidak hanya mengajar. Guru juga memiliki cerita, pengalaman, dan praktik baik yang layak untuk dituliskan," katanya.


Pengalaman Mengajar Ide Terbaik Menulis Bagi Seorang Guru

Hendri Irawan, dalam paparannya "Menggali Ide Naskah & Membedah Format Nonfiksi Reflektif Guru", menjabarkan bahwa dalam proses menggali ide naskah reflektif terbaik bagi seorang guru biasanya lahir dari keseharian mengajar di kelas yang meninggalkan kesan mendalam.

"Seorang guru bisa menggali ide dari beberapa sudut pandang, salah satunya adalah momen kegagalan terbesar seorang guru mengajar. Ceritakan saat rencana pelaksanaan pembelajaran gagal total, atau ketika Anda salah menghadapi murid. Fokuslah pada bagaimana Anda bangkit dan apa yang Anda pelajari," tutur Hendri.

Hendri melanjutkan, bisa juga ide menulis reflektif dari kisah tentang satu murid. Misalnya murid yang paling menantang atau yang paling pendiam, yang justru memberikan pelajaran hidup berharga bagi seorang guru.

"Bisa juga ide itu saat menghadapi sistem sekolah, ekspektasi orang tua yang tidak realistis, atau keterbatasan fasilitas di daerah 3T termasuk transformasi metode mengajar. Perjalanan seorang guru untuk keluar dari zona nyaman, misalnya dari metode ceramah konvensional beralih ke pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning)," kata Hendri.

Sementara itu, Abdul Aziz dalam paparannya "Storytelling dalam Karya Tulis non Fiksi: Tinjauan Pada Buku ‘Di Atas Kapal Firaun’, mengatakan bahwa storytelling dalam konteks buku nonfiksi bukan berarti menulis fiksi atau membuat cerita khayalan.

"Yang dimaksud adalah cara menyampaikan ide, fakta, atau data melalui struktur naratif yang memiliki unsur cerita — seperti tokoh, tantangan, perjalanan, dan hasil. Tujuannya sederhana, membuat pembaca merasakan isi buku, bukan sekadar membacanya," ujar Aziz.

Aziz menyontohkan kisah petualangan/perjalanan yang pernah ia ikuti dalam Ekspedisi “Circumnavigation Afrika 2008-2010) di pimpin oleh Philip beale, mantan AL Kerajaan Inggris. "Dari mengikuti Ekspedisi itu kami menulis Buku “Di atas Kapal Firaun”. Buku itu merupakan pengembangan dari catatan harian kami," kata dia.

Sebelumnya, lanjut Aziz, catatan itu dikembangkan berupa naskah berita petualangan yang dimuat diberapa media nasioanal antara lain Koran Tempo, Harian Republika, Majalah Mens Obsesion.

"Dari kumpulan artikel dikembangkan menjadi buku dengan judul Di Atas Kapal Firaun. Pada buku banyak ditambahkan cerita-cerita konflik yang tidak diungkap di artikel media. Selain itu di buku juga lebih detail tentang penjelasan situasi dan profil tokoh-tokoh," tutur Aziz.

Setali tiga uang, Jailani Ali Muhammad mengatakan, secara mekanis menulis itu sama dengan mengendarai sepeda motor, tidur, menyikat gigi, bermain teater dan mengerjakan hal-hal lain.

"Di setiap kegiatan itu ada yang disebut memulai atau pendahuluan, mengerjakan isi, dan menutupnya. Bedanya, karena menulis termasuk di dalam rumpun kerja kreatif, maka setiap tahap itu harus memiliki bobot, memulai dengan pendahuluan harus punya bobot memikat atau menawan, batang tubuh yang yang baik dan penuh isi, terakhir ditutup dengan mengesankan," tukasnya.

Masih kata Jailani, sumber-sumber tulisan umumnya hasil bacaan, amatan langsung atau observasi,  data hasil riset, tontonan, mimpi, peristiwa alam, peristiwa sosial, peristiwa politik, perselisihan, peperangan, perdamaian, dan banyak lagi lainnya.

"Cara menuliskan apa saja yang hendak dituangkan seseorang bisa dalam bentuk karya nonfiksi dan fiksi. Masalah yang lahir dari sumber tulisan yang banyak itu muncul justru tidak disadari karena berlaku hukum alam. Apakah kita bisa pipis satu ember saat kita hanya minum satu gelas air," tandasnya.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```